• Wahyu Amikarsa: Sablon sebagai Jalan Ekspresi Artistik
  • Wahyu Amikarsa: Sablon sebagai Jalan Ekspresi Artistik
  • Wahyu Amikarsa: Sablon sebagai Jalan Ekspresi Artistik
  • Wahyu Amikarsa: Sablon sebagai Jalan Ekspresi Artistik
  • Wahyu Amikarsa: Sablon sebagai Jalan Ekspresi Artistik
  • Wahyu Amikarsa: Sablon sebagai Jalan Ekspresi Artistik
Scroll Down
Essai By Henri Nurcahyo

Wahyu Amikarsa: Sablon sebagai Jalan Ekspresi Artistik

KETIKA sablon dianggap sebagai teknik yang ketinggalan zaman, Wahyu Amikarsa justru melihatnya sebagai medium ekspresi yang tetap relevan. Sablon bukan sekadar teknik mencetak gambar di atas kaos atau kain, melainkan dapat menjadi medium ekspresi artistik. Apapun anggapan orang, Wahyu justru terus merawat dan membagikan pengetahuannya kepada publik. Hal itu antara lain ia lakukan melalui rangkaian program publik Artsubs di Balai Pemuda (2-3 Oktober 2026), yang mempertemukan praktik seni dengan pengalaman langsung masyarakat.
Screen, rakel, tinta, dan kain menjadi bagian penting dalam perjalanan artistik bagi perupa asal Surabaya ini. Sablon bukan sekadar teknik mencetak gambar, melainkan medium yang membentuk cara ia berekspresi.
β€œKalau saya melukis akrilik di kanvas, saya bisa. Tapi jiwanya tidak di situ. Jiwa saya ada di screen,” kata Wahyu.
Kedekatan itu bermula ketika Wahyu menempuh pendidikan Seni Rupa di Institut Teknologi Bandung (ITB). Masuk pada 2008, ia memilih Seni Grafis dan kemudian menekuni sablon sebagai spesialisasi. Sejak itu, medium tersebut menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari praktik seninya.
β€œSecara personal saya sudah tidak bisa lepas dari sablon. Kalau beberapa bulan tidak nyablon, rasanya tidak enak,” ujarnya.
Wahyu melihat sablon terutama dari perspektif seni rupa, bukan semata industri. Proses mencetak memberinya ruang untuk mengolah gambar, warna, lapisan, tekstur, serta karakter material. Di dalamnya terdapat keputusan teknis dan kerja tangan yang menurutnya menjadi bagian dari pengalaman artistik.

Kembali ke Surabaya

Setelah lulus pada 2013, Wahyu kembali ke Surabaya pada 2015. Kepulangannya mempertemukan pengalaman berkesenian di Bandung dengan ekosistem seni rupa yang berbeda.
Ia mendapati bahwa pengembangan seni grafis, khususnya sablon, tidak semudah yang dibayangkan. Pengetahuan mengenai jenis tinta dan screen, perangkat teknis, hingga komunitas untuk berbagi pengalaman tidak mudah ditemukan.
β€œHal-hal yang ada di Bandung ternyata di sini tidak langsung sama. Mulai dari jenis tinta, jenis screen, sampai komunitas untuk sharing itu sedikit sekali,” ujarnya.
Situasi tersebut sempat membuatnya kehilangan kepercayaan diri untuk mengembangkan sablon. Di sisi lain, ia tetap membutuhkan pekerjaan untuk menopang kehidupan sehari-hari.
Bersama istrinya yang berlatar belakang arsitektur dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Wahyu kemudian mendirikan Studio Subtura pada 2015, yang bergerak di bidang arsitektur, interior, dan branding. Atas nama Subtura ini pula yang kemudian tampil di pameran Artsubs, dengan menghadirkan karya Maharani Mancanagara dan Nurrachmat Widyasena.
Dari Subtura, aktivitas profesional Wahyu berkembang. Tim inti studio kini berkisar 10 hingga 15 orang dan dapat bertambah sesuai kebutuhan proyek. Pekerjaan mereka juga beberapa kali bersinggungan dengan dunia seni, antara lain melalui kolaborasi dengan seniman Maharani Mancanagara dalam pengerjaan ruang dan furnitur untuk sebuah pameran.
Di tengah kesibukan itu, Wahyu sempat mencoba mengembangkan sablon sebagai bisnis. Pasarnya sebenarnya tersedia. Komunitas dan brand lokal di Surabaya membutuhkan jasa sablon manual. Namun, ia menemukan persoalan yang berbeda: tenaga terampil.
β€œKalau konstruksi, pagi mencari tukang bangunan, siangnya sudah banyak yang antre. Tapi kalau sablon, Senin buka, sampai Senin berikutnya belum tentu ada yang datang,” keluhnya.
Kesulitan membangun tim akhirnya membuat usaha sablon tersebut dihentikan. Namun, berhenti sebagai bisnis tidak berarti berhenti sebagai praktik seni.

Antara Kesederhanaan dan Kebebasan

Bagi Wahyu, salah satu daya tarik sablon terletak pada karakternya yang dekat dengan budaya populer dan semangat do it yourself (DIY). Berbeda dengan teknik cetak yang membutuhkan mesin dan infrastruktur industri besar, sablon dapat dilakukan dengan perangkat yang relatif sederhana. Screen, rakel, dan tinta sudah cukup untuk memulai proses.
Kesederhanaan itu justru menarik baginya.
β€œDi dunia yang serba kompleks, sablon dengan segala keterbatasannya juga bisa menghasilkan sesuatu yang warna-warni dan menarik,” ujarnya.
Wahyu melihat karakter tersebut sebagai semacam sikap independen. Ia mengibaratkannya dengan musik yang tumbuh di luar industri besar: tidak harus memiliki fasilitas yang kompleks untuk menciptakan karya.
Ia sendiri tetap mengeksplorasi teknik seni grafis lain, seperti cukil kayu. Teknik litografi dan intaglio juga menjadi bagian dari pengetahuannya, meskipun masing-masing memiliki kebutuhan peralatan yang lebih khusus. Namun, sablon tetap menjadi medium yang paling dekat dengan praktik personalnya.
Keterbatasan ekosistem seni grafis di Surabaya tidak membuat Wahyu berhenti mencari ruang untuk mengembangkan praktiknya. Ia justru memperluasnya melalui workshop dan pengajaran. Beberapa kali ia diundang menjadi dosen tamu, antara lain di Universitas Ciputra, untuk mengajarkan sablon kepada mahasiswa, terutama yang menekuni bidang fashion.
Bagi Wahyu, mengajar bukan hanya soal berbagi keterampilan. Pertemuan dengan orang lain memberinya kesempatan untuk menguji kembali gagasan dan proses kreatifnya.
β€œKalau dilakukan sendiri terus, lama-lama bisa bias. Seperti monolog. Kalau dialog, prosesnya jauh lebih dinamis,” ujarnya.
Dengan cara itu, sablon menjadi ruang pertemuan antara pengalaman personal dan gagasan orang lain.

Amikarsa dan Jalan Artistik

Untuk karya personal, Wahyu menggunakan nama Amikarsa. Karyanya banyak berangkat dari ilustrasi dan seni grafis, terutama sablon. Sementara aktivitas profesional di bidang arsitektur, interior, dan branding dijalankan melalui Subtura.
Aktivitas pamerannya kini memang tidak sesering sebelumnya. Kesibukan profesional membuat ruang untuk berpameran semakin terbatas. Ia juga pernah mengerjakan kebutuhan visual untuk sejumlah brand, termasuk Uniqlo. Namun, kesibukan tersebut tidak membuat hubungan Wahyu dengan seni grafis terputus.
Sablon justru menempati posisi yang lebih personal: bukan lagi sesuatu yang harus dikejar sebagai komoditas, melainkan ruang untuk mempertahankan identitasnya sebagai perupa.
Pada akhirnya, perjalanan Wahyu menunjukkan bagaimana sebuah medium dapat memiliki kehidupan yang melampaui fungsi awalnya. Sablon bisa menjadi industri, produk komersial, teknik produksi massal, sekaligus medium seni. Bagi Wahyu Amikarsa, pilihan terakhir itulah yang paling penting.
Di antara screen dan tinta, ia menemukan ruang untuk terus bereksperimen dan menjaga hubungan dengan seni grafis yang telah dipilihnya sejak kuliah. Sablon bukan sekadar apa yang ia kerjakan. Ia adalah cara Wahyu tetap terhubung dengan dirinya sebagai perupa. (henri nurcahyo)