Mempertanyakan Seniman Surabaya dalam ARTSUBS
MASIH saja ada yang mempertanyakan, “Mana seniman Surabaya dalam ARTSUBS?” Pertanyaan ini menunjukkan bahwa sebagian orang masih menganggap nama sebuah acara seni harus mencerminkan asal daerah para pesertanya. Padahal, Subs dalam ARTSUBS bukan singkatan dari Surabaya.
Kalaupun mau ngotot bahwa Subs adalah Surabaya (padahal ditulis Subs, bukan Sub), nama itu dikaitkan dengan Surabaya sebagai tempat penyelenggaraan, tidak berarti seniman Surabaya harus menjadi prioritas atau peserta pameran harus dibagi berdasarkan asal daerah. Kepesertaan sebuah pameran seni semestinya ditentukan oleh pertimbangan kuratorial dan kualitas karya, bukan semata-mata identitas geografis senimannya.
Prinsip serupa berlaku pada ArtJog, Art Jakarta, dan Art & Bali. Nama Jogja, Jakarta, atau Bali tidak cukup dimaknai sebagai penanda asal seniman yang boleh berpartisipasi, melainkan juga sebagai identitas peristiwa seni. Hal yang sama terlihat pada Biennale of Sydney, Singapore Biennale, Venice Biennale, dan Art Basel. Nama kota menjadi identitas penyelenggaraan, sementara cakupan peserta dan karya dapat melampaui batas wilayahnya.
Tentu, seniman lokal tetap penting untuk membangun ekosistem seni di daerahnya. Namun, pentingnya memberi ruang kepada seniman lokal tidak sama dengan kewajiban menjadikan asal daerah sebagai syarat utama kepesertaan. Pameran yang menghadirkan seniman dari berbagai wilayah justru membuka pertemuan gagasan, memperluas dialog, dan memungkinkan karya dibaca dalam konteks yang lebih luas.
Karena itu, pertanyaan yang lebih relevan bukan sekadar berapa banyak seniman Surabaya yang tampil di ARTSUBS, melainkan bagaimana karya-karya yang dipilih membangun percakapan artistik, memperkaya pengalaman publik, dan menempatkan Surabaya dalam pergaulan seni rupa yang lebih luas.
Kedua, penyebutan asal kota seorang seniman juga perlu diperjelas. Apakah yang dimaksud seniman Surabaya adalah mereka yang lahir dan menetap di Surabaya, atau seniman dari daerah lain yang kini tinggal dan berkarya di Surabaya? Kedua pengertian itu tentu berbeda.
Jika domisili dijadikan ukuran, Yogyakarta merupakan contoh menarik. Kota ini menjadi tempat tinggal dan basis berkarya bagi seniman yang berasal dari berbagai daerah, bahkan negara lain. Agung Kurniawan lahir di Jember, Heri Dono di Jakarta, dan Titarubi di Bandung. Sementara itu, Mella Jaarsma berasal dari Belanda dan Nadiah Bamadhaj dari Malaysia. Mereka menjadikan Yogyakarta sebagai basis praktik keseniannya. Termasuk, Amin Taasha adalah perupa asal komunitas Hazara, kelompok etnis minoritas berbahasa Persia di Afghanistan. Saat ini ia menetap dan berkarya di Yogyakarta, dan menjadi peserta Artsubs.
Lantas, apakah mereka harus disebut seniman Yogyakarta, seniman Jember, Jakarta, Bandung, Belanda, atau Malaysia? Jawabannya bergantung pada konteks: tempat kelahiran, asal-usul, pendidikan, domisili, dan basis praktik merupakan kategori yang berbeda. Karena itu, label geografis tidak selalu cukup untuk menjelaskan identitas seorang seniman, apalagi dijadikan satu-satunya dasar untuk menentukan kepesertaan pameran.
Dan yang lebih penting bukan semata-mata dari mana seorang seniman berasal atau tinggal, melainkan bagaimana karya dan praktik artistiknya berkontribusi dalam percakapan seni rupa.
Lantas, siapakah seniman Surabaya yang menjadi peserta Artsubs kali ini? Kalau merujuk pada domisilinya, dalam daftar peserta ARTSUBS 2026, sejumlah seniman dan kelompok dicantumkan dengan keterangan Surabaya, setidaknya ditemukan nama-nama sebagai berikut: Agung Tato, Alif Edi Irmawan, Arif Mulyadi, Bagas K. Putra, Beauty Clarabelle, Gabriel Eva, Mamuk Ismuntoro, Abu Sofyan, Fabiola Natasha, dan Nana Yap.
Alif Edi Irmawan misalnya, adalah seniman kontemporer yang tumbuh di Surabaya dan menempuh pendidikan seni lukis di SMSR Surabaya (2011–2014), kemudian melanjutkan studi di Institut Seni Indonesia Yogyakarta hingga lulus pada 2020.
Arif Mulyadi adalah seniman rupa yang berbasis di Surabaya dan menempuh pendidikan Seni Rupa, Program Studi Pendidikan Seni Rupa dengan fokus Seni Rupa Murni, di Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Ia juga aktif dalam komunitas seni Serbuk Kayu yang berbasis di Surabaya.
Gabriel Eva mempunyai latar belakang di bidang fashion. Sebelum menekuni praktik seni rupa, ia berkarier sebagai desainer kostum dan mengembangkan pakaian anak.
Faiola Natasha, atau nama lengkapnya Bernadette Godeliva Fabiola Natasha, dikenal pula dengan nama Kaze Kazumi, adalah seniman visual berbasis di Surabaya yang berkarya melalui beragam medium, mulai dari seni lukis, ilustrasi, desain grafis, hingga fotografi. Lulusan Desain Komunikasi Visual Universitas Kristen Petra ini pernah berkarier sebagai pengajar dan berkecimpung dalam bidang desain.
Nana Yap adalah seniman berbasis di Surabaya yang mengeksplorasi bentuk figuratif dan biomorfik melalui garis mengalir dan warna ekspresif. Karyanya mengangkat transformasi, siklus alam, serta identitas dan pengalaman perempuan. Dalam lukisan Axis (2025), ia membahas posisi perempuan kontemporer di antara kesempatan mengembangkan diri dan tanggung jawab menjaga tradisi. Pada ARTSUBS 2026, Nana menghadirkan karya Mencari Jalan Pulang, Mencintai Tanah Air.
Jadi, bukan hanya Agung Tato dan Bagas saja yang (dianggap mewakili) Surabaya. Dari 10 nama itu memang sebagian besar namanya tidak berkibar dalam arus utama percakapan seni rupa di Surabaya. Mereka tercatat sebagai seniman perorangan atau individu. Padahal, dalam ArtSubs juga banyak seniman yang hadir atas nama komunitas. Misalnya “Komunitas Minggu Motret” menghadirkan 22 (baca: dua puluh dua) seniman fotografi. Komunitas “Melihat Bersama” mengikutkan 3 (tiga) peserta. Komunitas “Disabilitas Berkarya” diwakili oleh 5 peserta.
Peserta kolaborasi yang hadir di Artsubs ini juga ada nama-nama: Arkiv Vilmansa × Satrio Yudho Pratomo, dan Thalia Halim × Samuel Alexander.
Berdasarkan data tersebut, secara kuantitas, jumlah seniman berbasis Surabaya yang menjadi peserta Artsubs ini tercatat sebanyak 10 + 22 + 3 + 5 + 4 = 44 (baca: empat puluh empat) peserta. Masih kurang? Bisa saja Sidoarjo juga dapat dianggap Surabaya, karena banyak seniman Surabaya yang tinggal di Sidoarjo. Zeta Ranniry Abidin itu tercatat seniman Sidoarjo. Tidak pernah dengar namanya? Sebetulnya lahir di Surabaya, namun dia menempuh pendidikan seni rupa di Universitas Kristen Maranatha, Bandung, serta meraih Bronze Award kategori Emerging Artist dalam ajang UOB Painting of the Year 2023.
Lalu ada nama Andi Rahman, arsitek yang menghadirkan karya Instalasi batu bata sintetis berjudul “Cakra Manggilingan” persis di depan pintu masuk. Ini bukan karya individu, melainkan kolaborasi dengan Wline, KONTEK, Metalworks, Spindo, Avian, dan Gantara Lighting, dengan keterangan lokasi Sidoarjo.
Kalau mau diperluas lagi, selain Surabaya dan Sidoarjo, ARTSUBS 2026 juga melibatkan sejumlah seniman yang tercatat berbasis di berbagai daerah lain di Jawa Timur. Dari Malang, terdapat Bambang BP, Dadang Rukmana, Gatot Pujiarto, Heri Catur, Luna Jilan Maghfiroh, Novantri Sumahadi Putra, dan Wibi Wardhani. Dari Batu, nama-nama yang tercantum ialah Fadjar Djunaedi, Hendung Tunggal Jati, Isa Ansory, dan Suwandi Waeng. Sementara itu, Banyuwangi diwakili Elyezer, Kediri oleh Friski Jayantoro, Lamongan oleh Dwi Januartanto, Mojokerto oleh Joni Ramlan, Pasuruan oleh Garis Edelweiss (Garis Kabe Muslim) dan Toni Ja’far, serta Situbondo oleh Ufa Faizah. Selain itu, Rio Ananta Prima tercatat sebagai anggota kolaborasi Indonesian Society of Botanical Artists (IDSBA) yang dikaitkan dengan Tulungagung. Kehadiran para seniman dari berbagai daerah ini memperlihatkan keterlibatan ekosistem seni rupa yang lebih luas dalam ARTSUBS 2026, tidak terbatas pada Surabaya sebagai kota penyelenggara.
Bahkan, 3 perupa Jatim, kali ini tampil dalam program publik Wicara Seniman hari Sabtu (17/10) pukul 13.00 – 15.00 WIB, yaitu Dwi Januartanto (Lamongan), Garis Edelweiss (Pasuruan), dan Ufa Faizah (Situbondo).
Pada akhirnya, perdebatan tentang siapa yang layak disebut seniman Surabaya dalam ARTSUBS semestinya tidak berhenti pada urusan menghitung nama atau memperdebatkan batas administratif kota. Data peserta menunjukkan bahwa keterlibatan seniman dalam pameran ini melampaui Surabaya, bahkan menjangkau berbagai daerah di Jawa Timur dan wilayah lain. Kehadiran mereka justru dapat menjadi kesempatan untuk melihat kembali ekosistem seni rupa Surabaya: seberapa terbuka kota ini terhadap pertemuan gagasan, seberapa kuat ruang-ruang seni dan komunitasnya, serta seberapa jauh karya para senimannya mendapat perhatian publik.
Identitas lokal tentu penting, tetapi tidak seharusnya menjadi pagar yang membatasi pergaulan artistik. Sebab, yang membuat sebuah kota berarti dalam peta seni rupa bukan semata-mata jumlah seniman yang mengatasnamakan kota itu, melainkan kemampuannya menjadi ruang tumbuh, pertemuan, dan pertukaran gagasan. Maka, alih-alih terus bertanya, “Mana seniman Surabaya dalam ARTSUBS?”, pertanyaan yang lebih mendasar adalah: sudah sejauh mana Surabaya membangun ekosistem seni rupa yang membuat para senimannya tumbuh dan karya-karyanya diperhitungkan? (henri nurcahyo)