Ketika Ufa Menemukan Jalan Kesenian
PERJALANAN Ufa membangun karier seni tidak berlangsung dalam satu lompatan besar. Tanpa pendidikan formal tentang seni rupa, ia berusaha mencari peluang pameran, membangun jejaring, dan belajar dari lingkungan seni rupa yang lebih luas. Ketika masih tinggal di Surabaya dan bekerja di kantor advokat, ia bergabung dengan komunitas cat air (Kolcai) karena dia melukis menggunakan media cat air.
Dari sini pergaulannya berkembang ke komunitas perupa Jawa TimurΒ sehingga membuka kesempatan untuk bertemu dengan seniman lain, melihat praktik berkesenian yang beragam, dan memahami bagaimana sebuah karya dapat diperkenalkan kepada publik. Ia juga mulai menerima pesanan atau art commission, dari drawing hingga painting, untuk menopang perjalanan awalnya.
Langkah-langkah tersebut penting karena menjadi seniman tidak cukup hanya dengan menghasilkan karya. Ada kebutuhan untuk membangun kepercayaan, memperkenalkan karakter artistik, mengembangkan jaringan, dan mencari cara agar kegiatan berkesenian dapat terus berlangsung.
Sejak 2018, perupa otodidak ini aktif mengikuti pameran. Perjalanan tersebut kemudian membawanya ke berbagai kesempatan, termasuk tantangan untuk menggelar pameran tunggal di Art Lab, Jalan Darmokali Surabaya, meskipun waktu itu dia sudah kembali ke Situbondo. Kesempatan tersebut menjadi salah satu pengalaman penting dalam prosesnya membangun kepercayaan diri dan memperluas jangkauan praktik artistiknya.
Di tengah perjuangan itu, dukungan suaminya menjadi penopang utama. Ketika lingkungan keluarga belum sepenuhnya dapat menerima pilihannya, ia menemukan satu-satunya dukungan dari suaminya yang memberinya ruang untuk terus berkarya. Bahkan ke mana-mana, termasuk ke Surabaya dan Jogja, selalu disertai suami. Dukungan tersebut penting bukan hanya secara emosional, tetapi juga untuk menjaga keyakinannya bahwa jalan yang dipilihnya layak diperjuangkan. Sebab mendapatkan waktu untuk berkarya saja susah.
βBahkan ketika hendak berpameran di sebuah toko buku di Surabaya, saya sempat dijatuhkan mental saya, dikata-katain habis-habisan,β tutur Ufa tentang orang tuanya.
Bagaimanapun orangtuanya sudah memiliki ekspektasi Ufa harus menjadi apa, sosok seperti apa, mungkin mereka punya mimpi-mimpi yang harus diwujudkan. Padahal itu bertentangan dengan jiwanya. Sehingga untuk menjadi seperti yang sekarang ini tidak mudah, harus menjalani perjuangan yang luar biasa. Bahkan hingga sekarang ini, ketika posisinya sudah dikenal di dunia seni rupa.
Ufa juga berusaha menguatkan dirinya melalui buku-buku pengembangan diri (self-improvement). Bacaan itu membantunya menghadapi tekanan dan menata kembali cara pandangnya terhadap kehidupan. Ia belajar bahwa dorongan untuk berkarya tidak selalu harus menunggu keadaan ideal atau kepastian bahwa setiap karya akan menghasilkan uang.
Baginya, berkarya merupakan kebutuhan. Ada kalanya karya menghasilkan pendapatan, ada kalanya tidak. Namun, ketidakpastian ekonomi tidak serta-merta menghapus kebutuhan untuk terus melukis.
Pengalaman tersebut membentuk pemahamannya mengenai kemandirian. Seorang seniman, terlebih perempuan yang tumbuh dalam lingkungan dengan aturan keluarga sangat ketat, perlu menemukan sumber kekuatan dari dalam dirinya sendiri. Dukungan orang lain sangat berarti, tetapi keputusan untuk terus berjalan pada akhirnya harus tumbuh dari keyakinan pribadi.
Mengapa Melukis Boneka?
Ketika seorang pelukis berulang kali menghadirkan sosok boneka dalam karya-karyanya, muncul dugaan, jangan-jangan ada sesuatu yang disembunyikan dan menjadikan boneka sebagai representasi kejiwaannya. Boneka bisa dibaca sebagai pilihan visual yang memiliki makna psikologis. Boneka bukan sekadar objek mati, melainkan metafora manusia yang memiliki wajah dan menyerupai manusia, tetapi tidak memiliki kehendak sendiri. Penampilannya dapat diatur, digerakkan, dan ditempatkan sesuai keinginan orang lain. Karena itu, boneka dapat melambangkan seseorang yang merasa hidupnya dikendalikan oleh keluarga, masyarakat, norma sosial, atau tuntutan lingkunganβhadir dan menjalani kehidupan, tetapi kehilangan kebebasan untuk menentukan dirinya sendiri.
Boneka dapat menjadi semacam alter ego atau representasi diri sang pelukis. Melalui boneka, seniman mungkin mengungkapkan perasaan yang sulit disampaikan secara langsung, seperti kesepian, kecemasan, ketakutan, kerapuhan, atau konflik batin. Wajah boneka yang tampak diam, kosong, atau murung dapat menghadirkan perasaan yang justru sulit diungkapkan oleh manusia melalui ekspresi wajahnya.
Ada kemungkinan seniman menggunakan boneka sebagai perantara untuk membicarakan pengalaman yang sangat personal. Dengan melukiskan boneka alih-alih manusia nyata, seniman menciptakan jarak simbolis antara dirinya dan pengalaman yang hendak diungkapkan. Jarak ini memungkinkan pengalaman yang menyakitkan, mengecewakan, atau membingungkan diolah menjadi bahasa visual.
Bagaimana dengan Ufa? Ternyata penghadiran objek boneka ini tidak lepas dari pengalaman masa kecilnya, di mana sebagai anak bungsu dari tiga bersaudara, jarak usia dengan kakak keduanya sangat jauh, 18 tahun.
Dikisahkan, ketika dia masih berusia 7 tahun, ia mengalami perundungan berulang kali dari saudara dan orang-orang terdekat di keluarganya. Pada usia ketika seorang anak belum memiliki kemampuan memadai untuk memilah dan memahami informasi yang diterimanya, pengalaman tersebut meninggalkan bekas yang mendalam. Ufa yang semula ceria perlahan menjadi pribadi yang lebih murung. Ia merasa tidak memiliki ruang maupun kemampuan untuk menyuarakan apa yang dialaminya.
(Ufa tak menceritakan bentuk perundungan itu seperti apa)
βKamu mengapa sekarang ini jadi pendiem, kok cemberut terus,β ujar Ufa menirukan ibunya.
Ufa masih terlalu kecil dan takut untuk curhat kepada orang lain. Dalam situasi itu, boneka mendapatkan makna yang berbeda. Benda yang lazim dipandang sebagai mainan anak-anak tersebut menjadi teman, bahkan seolah-olah keluarga yang dapat menemaninya ketika ia tidak menemukan tempat yang aman untuk mengungkapkan perasaan.
Seiring waktu, boneka berkembang menjadi semacam arsip emosi. Ia menyimpan ingatan tentang trauma, luka, kekecewaan, ketakutan, dan berbagai dinamika yang berlangsung di ruang domestik. Melalui lukisan, Ufa menghadirkan kembali ingatan itu bukan semata-mata untuk menceritakan pengalaman masa lalu, melainkan untuk memahaminya dari sudut pandang dirinya yang sekarang.
Di sinilah pengalaman yang sangat pribadi mulai menemukan bentuk artistiknya. Boneka tidak lagi hanya mewakili masa kecil Ufa, tetapi juga menjadi metafora tentang manusia yang menyimpan sesuatu di balik penampilan luarnya. Sosok yang tampak diam dapat menyimpan pergulatan batin yang panjang; wajah yang tidak memperlihatkan ekspresi berlebihan justru membuka ruang bagi penonton untuk menafsirkan perasaannya sendiri.
Bagi Ufa, proses berkarya juga menjadi bagian dari upaya penyembuhan diri (self-healing). Meskipun perjalanan itu tidak berlangsung sederhana. Ia harus berhadapan bukan hanya dengan ingatan masa lalu, melainkan juga dengan tekanan lingkungan dan ketakutan yang muncul dari dalam dirinya sendiri.
Bagi Ufa Faizah, boneka bukan sekadar objek yang menghadirkan kesan kekanak-kanakan dalam lukisan. Boneka adalah teman, keluarga, sekaligus saksi bisu atas kasih sayang, trauma, luka, dan segala hal yang terjadi di balik ruang domestik. Pengalaman masa kecil itu ternyata masih membekas hingga dewasa. Melalui sosok-sosok boneka yang dilukis secara realistis, ia mengungkapkan rasa takut, kekecewaan, krisis identitas, dan pergulatan seseorang untuk menemukan kembali dirinya sendiri. Di balik figur yang tampak tenang itu, tersimpan pengalaman emosional yang tidak selalu mudah diceritakan dengan kata-kata.
Sejak pameran tunggalnya yang kedua, tahun 2024 di Jogja, Ufa sudah mengangkat boneka-boneka dalam karyanya. Betapa boneka-boneka itu mewakili apa yang bergejolak dalam dadanya, sehingga: βWaktu artis talk saya pingin nangis, karena harus menceritakan alasan saya menggambar boneka. Sebelumnya saya tak pernah cerita, karena itu hal yang sangat privacy,β ujarnya.
Bagi Ufa, dengan terus melukis bukan hanya sekadar meluapkan ekspresi artistik tetapi seperti menemukan proses merawat luka dan berusaha menyembuhkannya. Itulah alasan utama mengapa boneka-boneka tetap menjadi objek di kanvasnya hingga sekarang ini. Termasuk karya tiga dimensi, juga menggunakan elemen boneka.
Sebelum Boneka
Sebelum menjadikan boneka sebagai elemen penting dalam karya-karyanya, Ufa terlebih dahulu mengeksplorasi benda-benda rumah tangga. Pilihan itu berkaitan dengan pengalaman hidupnya sebagai anak rumahan. Benda-benda di ruang domestik yang dekat dengan kehidupan sehari-hari menjadi sumber inspirasi dan titik berangkat untuk membangun bahasa visual yang lebih personal.

Dalam bayangannya waktu itu, seandainya dia mendapat dukungan dari keluarganya, barangkali dia bisa bergerak lebih cepat lagi berlari lebih cepat menjalani dunia seni rupa.
Dalam perkembangannya, ia tidak berhenti pada penggambaran objek secara harfiah. Benda-benda tersebut berusaha diolah menjadi sesuatu yang memiliki intelectual value atau semacam muatan pemikiran dan makna. Baginya, pengalaman sehari-hari dapat menjadi bahan penciptaan ketika seorang seniman mampu melihat kemungkinan yang tersembunyi di baliknya.
Dari laman instagramnya diketahui tahun 2022 Ufa melukis secara ekspresif sebuah teko yang berhiaskan lukisan bunga di tutup dan sebagian lambungnya. Dan sejumlah lukisan yang dibuatnya tahun 2021, antara lain buah-buahan, sepasang sandal, bunga kuning, mawar putih, kursi kayu, baju yang digantung, sesisir pisang, dan benda-benda sehari-hari sebagai latihan melukis secara langsung. Termasuk, ia pernah melakukan melukis on the spot dengan objek perahu. Tahun-tahun sebelumnya juga banyak mengabadikan objek buah-buahan, bunga, dan sebagainya.
Tahun 2022, Ufa melukis foto Bung Karno. Sebuah helm juga pernah dilukisnya, namun ternyata yang jadi fokusnya adalah gambar Spiderman di helm itu. Sebagaimana teks yang disertakannya: Selesai!! Pada tahap awal pengerjaan lukisan ini, saya hampir saja menyerah. Sejak awal, prosesnya menuntut konsentrasi dan fokus yang sangat tinggi. Namun, pada akhirnya saya merasa puas dan bahagia melihat sosok kecil Spider-Man hadir dalam lukisan saya. May 9, 2021
Bahkan, sepeda anak lelakinya juga pernah menjadi objek lukisnya, dengan teks: Ini adalah sepeda milik anak saya. Saya tak kuasa menahan keinginan untuk melukisnya, terutama ketika sepeda itu tersorot cahaya matahari. Yang perlu saya lakukan hanyalah mengambil kuas dan berusaha melukis secepat angin. September 6, 2021

Eksplorasi itu kemudian berkembang menjadi ketertarikan pada boneka dan figur kekanak-kanakan. Objek tersebut memberinya ruang untuk mengolah pengalaman personal melalui simbol, tanpa harus menjelaskan setiap peristiwa secara langsung. Pengalaman emosional dapat hadir melalui pilihan objek, komposisi, suasana, dan hubungan antara figur dengan ruang di sekitarnya.
Boneka adalah simbol dari dunia masa kanak-kanak dan ingatan yang tersimpan. Boneka dan mainan juga membawa kita kembali ke masa kanak-kanak, ketika dunia terasa penuh imajinasi dan keajaiban. Akan tetapi, ketika benda-benda itu dihadirkan sebagai objek lukisan, kita dapat melihatnya dari sudut pandang orang dewasa: sesuatu yang dahulu menyenangkan bisa sekaligus menyimpan kenangan, kerinduan, bahkan kegelisahan tentang kehidupan.
Secara visual, Ufa mempertemukan penggambaran figur yang cenderung realistis dengan latar yang memperlihatkan sapuan kuas lebih ekspresif. Kontras tersebut menghadirkan ketegangan antara sesuatu yang tampak nyata dan sesuatu yang berlangsung di dalam batin. Figur dapat terlihat terjaga secara detail, sementara latarnya memberi kesan emosi yang bergerak, tidak stabil, atau belum sepenuhnya terselesaikan.
Pendekatan itu membuat lukisannya tidak berhenti sebagai representasi objek. Ada lapisan psikologis yang mengajak penonton bertanya: apa yang sedang dialami figur tersebut, apa yang disembunyikannya, dan bagaimana ruang di sekitarnya memengaruhi keberadaannya?
Bahasa visual Ufa terbentuk melalui proses eksplorasi medium yang bertahap. Ia memulai perjalanan artistiknya melalui drawing, kemudian mencoba arang (charcoal), pensil, cat air, dan cat akrilik. Setelah melewati berbagai percobaan, ia akhirnya memilih cat minyak sebagai medium yang dirasakan paling sesuai dengan kebutuhan ekspresinya.
Baginya, karakter cat minyak yang kental dan memiliki tekstur dan kekentalan memberi kemungkinan untuk merespon emosi melalui sapuan dan lapisan warna serta mewadahi narasi visual yang diangkatnya. Medium tersebut memungkinkan dirinya bekerja dengan karakter visual yang berbeda dari pengalaman sebelumnya.
Pilihan terhadap cat minyak bukan sekadar persoalan teknis. Medium menjadi bagian dari cara seorang seniman menerjemahkan pengalaman ke dalam bentuk visual. Karakter bahan, cara mengaplikasikannya, serta respons yang muncul selama proses pengerjaan turut menentukan hasil akhir sebuah karya. Cat minyak bukan lagi hanya sekadar media untuk melukis melainkan bagian dari objek dirinya sendiri.
Penggunaan cat minyak juga menuntut perhatian terhadap keselamatan kerja. Ufa mengungkapkan bahwa proses pengerjaannya perlu dilakukan di ruang terbuka karena bahan dan pigmen tertentu dapat menimbulkan risiko kesehatan. Ia juga harus memperhatikan penyimpanan bahan agar tidak terjangkau anak-anak.
Dengan demikian, proses kreatifnya tidak hanya berkaitan dengan pencarian ekspresi, tetapi juga dengan pengelolaan ruang, bahan, dan kondisi kerja. Hal-hal yang tampak berada di luar lukisan sesungguhnya ikut menentukan bagaimana karya itu dapat diwujudkan. (bersambung)
Catatan: Foto-foto diambil dari akun IG @ufafaizah