• Di Balik Dunia Permainan: Pencarian Identitas dan Kegelisahan Batin Ufa Faizah
  • Di Balik Dunia Permainan: Pencarian Identitas dan Kegelisahan Batin Ufa Faizah
  • Di Balik Dunia Permainan: Pencarian Identitas dan Kegelisahan Batin Ufa Faizah
  • Di Balik Dunia Permainan: Pencarian Identitas dan Kegelisahan Batin Ufa Faizah
Gulir ke Bawah
Esai Oleh Henri Nurcahyo

Di Balik Dunia Permainan: Pencarian Identitas dan Kegelisahan Batin Ufa Faizah

DI BALIK warna-warni dunia permainan, boneka, dan suasana seperti panggung hiburan anak-anak, Ufa Faizah justru menyimpan cerita tentang kegelisahan manusia. Melalui empat karya yang ditampilkan di ARTSUBS 2026, perupa asal Situbondo ini mengajak penonton menyelami hubungan antara ingatan masa kecil, tuntutan lingkungan sosial, dan pencarian identitas diri. Dunia yang sekilas tampak menyenangkan itu perlahan memperlihatkan sisi lain: tentang perasaan yang terpendam, peran yang harus dimainkan, dan manusia yang belum sepenuhnya menemukan dirinya sendiri.

Untuk memahami keempat karya tersebut secara utuh, pengalaman hidup Ufa memberikan konteks penting untuk memasuki dunia visualnya: ketertarikan pada identitas, ruang personal, dan hal-hal yang tersembunyi di balik penampilan luar. Apa yang divisualkan dalam karya-karyanya ini semakin mempertegas apa yang dikisahkan oleh Uva sendiri. Semuanya terasa klop.

Di titik ini, perjalanan hidup dan praktik artistiknya bertemu. Pilihan untuk menjadi seniman bukan hanya keputusan mengenai profesi, melainkan juga upaya untuk memperoleh kendali atas kehidupan sendiri. Hal itu tidak berarti setiap karya harus dibaca sebagai pengakuan autobiografis. Pengalaman personal justru menjadi bahan yang dapat diolah, diubah, dan dibuka bagi beragam tafsir penonton.

Pada akhirnya, boneka-boneka Ufa tidak hanya berbicara tentang seorang anak yang pernah kehilangan ruang untuk bersuara. Boneka-boneka itu juga dapat dibaca sebagai gambaran manusia yang berusaha memahami dirinya di tengah tuntutan, harapan, dan batas-batas yang dibentuk oleh lingkungan.

Melalui seni, Ufa menemukan cara untuk menghadapi masa lalu tanpa harus terus-menerus terkurung di dalamnya. Ia tidak menghapus pengalaman yang membentuk dirinya, tetapi mengolahnya menjadi bahasa visual. Di sanalah seni memperoleh makna yang lebih luas: bukan semata-mata menghasilkan objek untuk dipandang, melainkan membuka ruang bagi seseorang untuk memahami dirinya sendiri dan, pada saat yang sama, memberi kesempatan kepada orang lain untuk bercermin.

Berangkat dari pengalaman personal yang dikisahkan Ufa di atas menjadi salah satu pintu masuk untuk memahami karya-karya Ufa Faizah yang tampil di ARTSUBS 2026 kali ini. Ia menghadirkan empat karya: yakni Beyond The Spotlight, Dream Catcher, Society of Wonders, dan Rooted in Grace. Karya-karya itu memperlihatkan ketertarikannya pada hubungan antara pengalaman pribadi, identitas, dan dunia yang membentuk seseorang.

Karya yang berjudul Beyond The Spotlight merupakan lukisan cat minyak pada linen berukuran 60 Γ— 80 sentimeter, menghadirkan suasana seperti pertunjukan sirkus atau panggung hiburan anak-anak, tetapi ekspresi boneka utamanya justru tampak sendu. Ada kontras antara dunia yang penuh warna, mainan, dan benda-benda hiburan dengan wajah boneka yang terlihat murung.

Dalam karya ini Ufa Faizah menghadirkan sebuah dunia di sudut ruangan yang menyerupai panggung hiburan anak-anak. Boneka berambut pirang berdiri di antara lingkaran permainan, anjing-anjing mainan, dan berbagai properti yang mengingatkan pada pertunjukan sirkus. Latar belakangnya didominasi usapan stroke-stroke warna merah-oranye yang hangat, tetapi wajah boneka itu justru memancarkan kesan muram.

Kontras tersebut membuka kemungkinan pembacaan yang menarik. Di tengah dunia yang seolah dirancang untuk menghibur, tokoh utama justru tidak memperlihatkan kegembiraan yang sepadan. Judul Beyond The Spotlightβ€”di balik sorotanβ€”seakan mengajak penonton melihat lebih jauh daripada penampilan yang disuguhkan di atas panggung. Sebab, menjadi pusat perhatian tidak selalu berarti merasa bahagia; menjalankan peran dengan sempurna tidak selalu berarti menjadi diri sendiri.

Boneka, yang dalam praktik artistik Ufa kerap berkaitan dengan ingatan masa kecil dan pergulatan emosional, dapat dibaca sebagai metafora seseorang yang harus memainkan peran sesuai harapan lingkungannya. Di balik penampilan yang tertata, mungkin ada perasaan yang tidak memperoleh kesempatan untuk berbicara. Dengan demikian, sudut ruangan dalam lukisan ini bukan hanya tempat pertunjukan, melainkan juga ruang tempat identitas, tuntutan, dan perasaan pribadi saling berhadapan.

Karya lainnya, Dream Catcher berukuran 120 Γ— 150 sentimeter. Β Dalam karya ini Ufa Faizah menghadirkan dunia masa kanak-kanak yang dipenuhi boneka, mainan, dan atribut pertunjukan. Sekilas, suasananya menyerupai pesta kecil di tengah dunia imajinasi. Namun, ekspresi sejumlah boneka yang cenderung datar dan sendu menghadirkan nuansa berbeda. Di balik warna-warni permainan, seolah tersimpan perasaan yang tidak sepenuhnya terungkap. Lagi-lagi latar belakang dindingnya dipenuhi dengan stroke-stroke merah dan sebagian lagi kekuningan yang menggambarkan keriuhan, dan berbanding terbalik dengan suasana muram di depannya.

Judul Dream Catcher membuka kemungkinan merupakan pembacaan bahwa lukisan ini berbicara tentang upaya menangkap kembali mimpi, ingatan, dan pengalaman emosional masa kecil. Boneka besar itu menggunakan umpan bintang emas di ujung tali tongkat pancing. Dalam praktik artistik Ufa, boneka bukan sekadar mainan, melainkan juga berkaitan dengan kenangan dan perasaan yang sulit disuarakan. Karena itu, dunia permainan dalam lukisan ini dapat dibaca bukan hanya sebagai ruang kegembiraan, tetapi juga sebagai tempat tersimpannya pengalaman batin.

Mimpi, dalam pengertian ini, tidak selalu berupa harapan tentang masa depan. Ia bisa menjadi jalan untuk kembali menyentuh masa laluβ€”menemukan kembali bagian-bagian diri yang pernah terluka, terlupakan, atau belum sepenuhnya dipahami.

Sedangkan satu karya berjudul Society of Wonders berukuran 150 Γ— 120 sentimeter, juga menggunakan cat minyak pada linen. Mirip dengan sebelumnya, karya ini sepertinya hendak menyatakan masyarakat sebagai panggung pertunjukan, atau masyarakat penuh keajaiban. Kehadiran boneka-boneka yang seolah memainkan peran masing-masing mengingatkan kita pada kehidupan sosial, ketika setiap orang tampil dengan kostum, identitas, dan perilaku tertentu. Seperti pemain sirkus, setiap orang mempunyai peran yang harus dimainkan agar pertunjukan terus berlangsung.

Namun di balik keceriaan, ada kehidupan yang diatur. Boneka-boneka itu tampak bebas bergerak dan bersenang-senang. Tetapi sebagai mainan, keberadaan mereka sesungguhnya bergantung pada pihak yang menggerakkan atau mengaturnya. Di sinilah muncul kemungkinan tafsir tentang manusia yang merasa bebas, padahal sesungguhnya dibentuk oleh aturan, tuntutan, dan harapan masyarakat. Sebuah kotak dadu menyimbolkan nasib yang dipertaruhkan.

Warna-warna cerah dan suasana pesta membuat lukisan ini menarik secara visual. Hanya saja, kepadatan objek dan karakter-karakter yang tampak seperti sedang memainkan peran membuka pertanyaan: apakah masyarakat benar-benar merupakan dunia yang penuh keajaiban, atau justru sebuah panggung tempat setiap orang berusaha memenuhi ekspektasi tertentu?

Karya ini dapat dibaca sebagai gambaran masyarakat dalam bentuk dunia mainan yang penuh warna, kejenakaan, dan fantasi. Di balik kemeriahan itu, lukisan ini membuka kemungkinan refleksi tentang peran sosial, kebebasan individu, dan batas antara kenyataan dengan dunia yang kita ciptakan sendiri.

Menariknya, boneka-boneka itu tampak hidup, tetapi kita tahu mereka adalah benda mati. Paradoks tersebut dapat menjadi pintu masuk untuk merenungkan manusia: ketika semua orang sibuk memainkan perannya, apakah mereka masih sungguh-sungguh menjadi dirinya sendiri?

Perbedaan ukuran dan medium tersebut memperlihatkan bahwa praktik Ufa tidak semata-mata bergantung pada satu format. Ia mengembangkan bahasa visual melalui lukisan sekaligus membuka kemungkinan lain lewat material campuran.

Sedangkan Rooted in Grace merupakan karya berbahan campuran yang memadukan kayu jati, besi, clay epoxy, benang, cat akrilik, set modul MP3, lampu LED, dan motor sinkron (synchronous motor). Berukuran 70 Γ— 70 Γ— 88 sentimeter, karya ini memperlihatkan penggunaan material dan komponen teknis di luar medium lukis konvensional. Perluasan material tersebut membuka kemungkinan pembacaan karya melalui hubungan antara objek, teknologi, dan pengalaman ruang.

Ini satu-satunya karya Ufa Faizah tiga dimensi di hajatan Artsubs kali ini, yang sekaligus menghadirkan gerak dan suara. Wahana permainan anak yang biasanya identik dengan kegembiraan. Kuda-kuda kayu berputar mengikuti irama, lampu berkelap-kelip, sementara anak-anak menikmati sensasi seolah sedang berpetualang. Namun Ufa Faizah menghadirkan suasana berbeda. Kuda-kuda itu digantikan oleh kepala boneka bertanduk rusa berada dalam sebuah cangkir.

Sementara suara yang mengiringi putarannya bukan musik riang, melainkan derit panjang seperti pintu tua yang dibuka: krieeet. Bunyi itu menghadirkan suasana ganjil, seolah sesuatu yang lama tertutup sedang dipaksa terbuka kembali. Permainan yang semestinya menghadirkan kegembiraan pun berubah menjadi pengalaman yang mengusik, seperti ingatan atau kegelisahan yang terus berulang dan tak kunjung menemukan penyelesaian. Seolah ada sesuatu dalam diri kita yang terus bergerak, tetapi tidak pernah benar-benar menemukan tempatnya.

Yang paling nampak ganjil adalah kepala boneka itu seolah tumbuh dari sebuah cangkir yang terlalu kecil untuk menampungnya. Dari kepalanya menjalar ranting-ranting menyerupai tanduk rusa, sementara tubuhnya tidak tampak. Sosok ini seperti berada di antara beberapa kemungkinan: manusia yang berubah menjadi sesuatu yang lain, makhluk yang kehilangan keutuhan, atau identitas yang sedang mencari bentuknya sendiri.

Putarannya terus berlangsung, tetapi sesuatu terasa tidak lagi utuh. Ufa seperti mengajak penonton mempertanyakan apa yang sesungguhnya tersembunyi di balik sesuatu yang tampak menyenangkan. Sebab, tidak semua yang berputar membawa kegembiraan, dan tidak semua yang tampak hidup benar-benar memiliki kehidupan. Perputaran ini menyiratkan makna adanya pengulangan terus menerus yang seolah-olah bergerak mengikuti suatu mekanisme.

Sementara itu, di bawah wahana permainan, akar-akar pohon menjalar ke segala arah, memenuhi permukaan tanah tanpa benar-benar menancap ke dalamnya. Akar yang semestinya menjadi penopang kehidupan justru tampak kehilangan ruang untuk bersembunyi dan mengukuhkan diri. Bentuk ini menghadirkan gambaran tentang sesuatu yang terus berusaha tumbuh, tetapi belum tentu menemukan pijakan yang kokoh. Jika di bagian atas wahana terus berputar dalam gerak berulang, di bagian bawah akar-akar itu seolah mencari jalan ke berbagai arah. Keduanya menghadirkan ketegangan antara keterjebakan dan keinginan untuk bertumbuh, antara gerak yang berulang dan pencarian akan tempat berpijak.

Namun, satu hal yang menarik: akar-akar ini berada di bawah sebuah wahana yang berputar, bukan di bawah pohon yang tumbuh secara alami. Karena itu, kita tidak hanya melihat akar sebagai lambang kehidupan, tetapi juga sebagai bagian dari susunan yang tidak lazimβ€”sebuah sistem yang menghubungkan permainan, tubuh yang tidak utuh, gerak mekanis, dan struktur perakaran.

Catatan Penutup

Menyimak apa yang dituturkan Ufa sebagai kisah hidupnya, maka dapatlah dipahami mengapa figur boneka muncul berulang kali, namun jauh dari kesan ceria sebagaimana lazimnya benda yang lekat dengan dunia anak-anak. Alih-alih menghadirkan kelucuan dan kegembiraan, mereka justru membawa suasana murung, ganjil, bahkan terkadang menggelisahkan. Wajah dan gesturnya seolah menyimpan sesuatu yang tak terucapkan, seperti ada pengalaman yang tertahan di balik tatapan kosongnya.

Di sinilah boneka menjadi menarik. Ia merupakan benda yang bisa digerakkan, didandani, dan diberi peran sesuai kehendak pemiliknya. Dalam pengertian tertentu, boneka tidak memiliki kuasa atas dirinya sendiri. Ia menjadi apa yang dikehendaki orang lain. Bukankah ada kemiripan dengan pengalaman seseorang yang tumbuh di tengah tuntutan, ekspektasi, dan keputusan yang lebih banyak ditentukan oleh orang lain? Tentu saja, ini bukan berarti figur boneka dalam karya Ufa dapat langsung disamakan dengan dirinya. Namun, pengalamannya memperjuangkan hak untuk menentukan jalan hidup sendiri memberikan konteks yang menarik untuk membaca simbol tersebut.

Boneka-boneka itu seolah menjadi jendela terbuka menuju wilayah psikologis yang tidak selalu mudah dibicarakan: penderitaan, kesakitan, kekecewaan, ketakutan, dan pergulatan untuk menemukan diri sendiri. Dunia yang seharusnya identik dengan kepolosan dan keceriaan justru berubah menjadi panggung tempat kegelisahan manusia dipertontonkan. Ada paradoks di sana. Sosok yang tampak tidak berdaya justru diberi kesempatan untuk menyuarakan sesuatu yang mungkin sulit diungkapkan secara langsung oleh manusia.

Suasana murung yang berulang dalam karya-karyanya pun mengundang pertanyaan: apakah Ufa sedang merekam luka-luka personal, mengolah pengalaman yang telah berlalu, atau berbicara tentang kondisi manusia yang lebih universal? Jawabannya tidak harus tunggal. Karya seni tidak selalu merupakan pengakuan autobiografis, dan simbol tidak selalu memiliki makna yang tetap. Namun, melalui boneka, Ufa tampaknya menemukan jarak yang memungkinkannya mengamati sekaligus mengungkapkan pengalaman emosional dengan lebih leluasa. Boneka menjadi perantara antara sesuatu yang dirasakan dan sesuatu yang akhirnya dapat dilihat orang lain.

Pada akhirnya, boneka-boneka Ufa bukan sekadar figur yang menghuni kanvas atau ruang pamer. Mereka menghadirkan pertanyaan tentang siapa yang mengendalikan kehidupan seseorang, sejauh mana seseorang berhak menentukan dirinya sendiri, dan bagaimana luka-luka batin memengaruhi cara manusia memandang dunia. Jika boneka identik dengan dunia anak-anak yang penuh kegembiraan, Ufa justru membalik asosiasi itu. Ia memperlihatkan bahwa di balik sesuatu yang tampak manis dan tidak berbahaya, bisa tersimpan kesedihan yang mendalam.

Barangkali, melalui boneka-boneka itulah Ufa sedang mengupayakan sesuatu yang selama ini ia perjuangkan dalam kehidupan nyata: merebut kendali atas dirinya sendiri. Bedanya, di dalam karya seni, ia tidak lagi harus menjadi sosok yang mengikuti kehendak orang lain. Ia adalah pihak yang menentukan bagaimana boneka-boneka itu hadir, apa yang mereka kenakan, bagaimana mereka ditempatkan, dan suasana apa yang mereka pancarkan. Boneka yang dalam kehidupan sehari-hari dikendalikan oleh manusia, di tangan Ufa justru menjadi medium untuk membicarakan perjuangan manusia agar tidak terus-menerus dikendalikan oleh keadaan. Di situlah kemuraman karya-karyanya menemukan makna yang lebih jauh daripada sekadar kesedihan: sebuah upaya untuk memahami diri, mengolah luka, dan perlahan-lahan membangun kebebasan. (selesai)