• Dari Situbondo, Ufa Faizah Melawan Takdir Menjadi Boneka
  • Dari Situbondo, Ufa Faizah Melawan Takdir Menjadi Boneka
  • Dari Situbondo, Ufa Faizah Melawan Takdir Menjadi Boneka
  • Dari Situbondo, Ufa Faizah Melawan Takdir Menjadi Boneka
Gulir ke Bawah
Esai Oleh Henri Nurcahyo

Dari Situbondo, Ufa Faizah Melawan Takdir Menjadi Boneka

SELAMA ini kantong-kantong seni rupa di Jawa Timur adalah Surabaya, Malang, Batu, Pasuruan, dan Banyuwangi, meski juga tak berarti menafikan keberadaan Gresik dan Sidoarjo. Potensi perupa, khususnya pelukis, serta aktivitas pameran di kota-kota tersebut sering terdengar dalam frekuensi yang berbeda. Tetapi dalam pameran Artsubs 2026, tahu-tahu muncul satu perupa dari Situbondo, namanya Ufa Faizah, seorang perupa yang memiliki bahasa visual dan perjalanan artistik sendiri.

Ini seperti anomali, karena di kota itu nyaris tidak atau kurang terdengar potensi perupa dan aktivitas pameran. Kehadirannya terasa tidak terduga karena tidak didahului oleh pengetahuan publik yang memadai tentang kehidupan seni rupa di daerah asalnya. Disebut anomali lantaran ada kontras antara minimnya visibilitas seni rupa Situbondo dan kemunculan seorang perupa yang berhasil menembus panggung seni rupa yang lebih luas. Bukan berarti Situbondo tidak punya kehidupan seni rupa, namun kurang terdengar atau belum banyak terpetakan dalam percakapan seni rupa nasional.

Selain Ufa, tentu masih ada sejumlah nama pelukis Situbondo lainnya. Setidaknya, menurut catatan lama, di wilayah kabupaten yang mencakup Taman Nasional Baluran dan Pantai Pasir Putih ini tercatat ada yang namanya Komunitas Perupa Situbondo (Komperasi). Beberapa nama yang bisa disebut antara lain: Irwan Kurniadi, Supari, dan Dwi Pilian G. Juga ada Komunitas Pelukis Cat Air (Kolcai) Chapter Situbondo, di mana terdapat nama Jefri Gunawan. Selain itu adaΒ  Boedi Widodo dari Sanggar Lukis Pelangi, dan Ali Garby dari Sanggar Seni Nusantara Rythm.

Data-data tersebut memang catatan lawas, belum diverifikasi sekarang ini. Sementara keberadaan Dewan Kesenian Situbondo (DKS) yang diketuai Edy Supriyono (2022 – 2027), dikenal sebagai wartawan dan pengelola organisasi kesenian. Dalam pemberitaan yang dapat ditemukan, aktivitas DKS lebih banyak terlihat pada seni pertunjukan, tari, musik, dan pelestarian budaya lokal.

Kemunculan Ufa Faizah di ARTSUBS 2026 dengan demikian bukan sekadar kehadiran seorang pelukis dari daerah yang jarang disebut dalam peta seni rupa nasional. Ia sekaligus membuka pertanyaan tentang bagaimana seorang perupa tumbuh, menemukan bahasa visualnya, dan membangun perjalanan artistik di tengah lingkungan yang belum banyak terdengar aktivitas pamerannya. Apakah Ufa berkembang sendirian, atau ada ekosistem seni rupa lokal yang selama ini luput dari perhatian? Untuk menjawabnya, perlu melihat lebih dekat perjalanan Ufa, sekaligus menengok kehidupan seni rupa Situbondo yang belum banyak terpetakan.

Satu hal yang mencolok, karya-karyanya dalam hajatan pameran seni rupa kontemporer ini banyak menghadirkan figur-figur boneka. Baik dalam karya dua dimensi atau tiga dimensi. Hal ini menarik ditelisik lebih jauh: mengapa boneka? Apa makna boneka bagi Ufa? Adakah hal-hal khusus yang menjadi latar belakang dalam kehidupannya sehingga memilih simbol boneka? Tentu bukan lantaran Ufa seorang perempuan.

Deretan pertanyaan tersebut menjadi pintu masuk untuk memahami dunia artistik Ufa Faizah. Boneka bukan sekadar objek yang berulang dalam karya-karyanya, melainkan tampaknya telah menjadi semacam tokoh utama yang menghubungkan berbagai persoalan yang ingin ia ungkapkan. Melalui figur yang menyerupai manusia, tetapi bukan manusia itu, Ufa menghadirkan tubuh, wajah, dan gestur yang dapat memancing beragam tafsir. Boneka bisa tampak menggemaskan, tetapi sekaligus menyimpan keganjilan. Ia bisa menjadi representasi diri, tetapi juga sosok yang kehilangan kendali atas dirinya sendiri.

Dalam sejumlah karyanya, boneka hadir dalam ruang domestik, berada di tengah situasi yang ganjil, baik boneka manusia atau hewan. Di tangan Ufa, figur ini seolah menjadi medium untuk membicarakan identitas, kecemasan, ketakutan, dan proses transformasi diri. Namun, apakah boneka memang berangkat dari pengalaman personal sang seniman, atau justru dipilih karena kemungkinan ekspresifnya dalam bahasa visual? Pertanyaan ini penting agar pembacaan terhadap karya tidak berhenti pada tafsir penonton semata.

Untuk menelusuri maknanya lebih jauh, tentu perlu melihat bagaimana Ufa mengembangkan figur boneka dari satu karya ke karya lainnya, sekaligus mendengarkan penjelasannya sendiri. Sebab, di balik sosok boneka yang tampak diam dan tidak bernyawa itu, mungkin tersimpan sesuatu yang justru sangat manusiawi: pergulatan seseorang untuk mengenali dirinya, menghadapi ketakutannya, dan menentukan siapa dirinya di tengah berbagai tuntutan kehidupan.

Budaya Pandalungan dan Pengalaman Individual

Dalam acara Wicara Seniman di Balai Budaya Sabtu siang (17/10), di mana Ufa menjadi salah satu narasumber, Nirwan Dewanto sebagai moderator memberi pengantar, bahwa salah satu fungsi Artsubs itu adalah menampilkan faktor X yang terkubur dalam lanskap lokal maupun nasional.

β€œMengapa tetap tinggal dan berkarya di Situbondo?” tanya Nirwan yang juga kurator Artsubs itu.

β€œSaya memang asli Situbondo Pak,” jawab Ulfa.

Situbondo merupakan salah satu kawasan budaya Pandalungan di Jawa Timur, yakni wilayah pertemuan budaya Jawa dan Madura yang membentuk karakter sosial, bahasa, kesenian, dan tradisi masyarakatnya. Pengaruh Madura terasa kuat dalam kehidupan sehari-hari, terutama melalui penggunaan bahasa Madura, pola kekerabatan, tradisi keagamaan, serta kesenian rakyat yang diwariskan lintas generasi. Di sejumlah wilayah, bahasa Madura bahkan lebih dominan digunakan dalam percakapan sehari-hari dibandingkan bahasa Jawa.

Dalam konteks seni rupa, lingkungan budaya semacam ini menyediakan sumber pengalaman dan kemungkinan penciptaan yang kaya. Tradisi, simbol, kehidupan pesisir, religiositas, hubungan sosial, hingga perubahan masyarakat dapat menjadi bahan eksplorasi artistik. Namun, pengaruh lingkungan tidak selalu muncul secara langsung sebagai motif atau gambaran tradisional dalam karya seorang seniman.

Ia juga dapat meresap ke dalam cara seseorang memandang dunia, memahami tubuh dan identitas, atau membangun simbol personal. Karena itu, menarik untuk melihat apakah latar budaya Situbondo turut membentuk sensibilitas artistik Ufa Faizah, atau apakah ia justru mengembangkan bahasa visual yang lebih bertolak dari pengalaman individualnya. Sepertinya, kemungkinan yang disebut terakhir itulah yang terjadi pada diri Ufa.

Lahir di Situbondo tahun 1990, namun Ufa sudah meninggalkan kota kelahirannya begitu lulus Sekolah Dasar (SD). Ia lantas menempuh pendidikan SMP dan SMA di Ngawi, di ujung barat perbatasan Jatim – Jateng, yang berada di wilayah budaya Mataraman. Mengapa Ngawi, karena tujuannya memang di pondok besar khusus Putri, yaitu PP Gontor. Selama 6 tahun Ufa menimba ilmu di lingkungan pesantren tersebut.

Lulus SMA, Ufa malah pindah ke Malang, melanjutkan pendidikan S-1 Ilmu Hukum di Universitas Brawijaya, Malang. Setelah itu, pindah ke Surabaya,Β  menempuh pendidikan magister hukum di Universitas Airlangga. Dengan latar pendidikan tersebut, ia sebenarnya memiliki jalur karier yang relatif jelas di bidang hukum. Pilihan itu juga sejalan dengan harapan keluarganya. Lulus dari pendidikan magister, Ufa bergabung di sebuah kantor advokat di Surabaya. Meskipun, orangtuanya sempat mengarahkan menuju profesi jaksa atau hakim.

Kenapa memilih jurusan hukum? β€œKebetulan saya ini anak yang berbakti sama orang tua. Meski sebenarnya tidak ingin kuliah hukum, tapi bagaimana lagi,” tuturnya.

Ufa dibesarkan dalam lingkungan dengan pola pengasuhan yang sangat ketat. Β Orangtuanya memang sangat keras dalam pendidikan anak-anaknya. Mungkin ada semacam ekspektasi tertentu dan memiliki pandangan kuat mengenai bagaimana anak-anak mereka seharusnya menjalani kehidupan. Termasuk dalam menentukan pendidikan dan pekerjaan.

Apa boleh buat, keinginannya kuliah jurusan desain hanya tersimpan di kepalanya saja. Ia tak berani mengatakannya, pasti dilarang. β€œYa sudah saya nurut aja, karena saya ini anak solehah,” ujar Ufa dengan nada pasrah.

Padahal, Ufa sudah memiliki ketertarikan pada seni lukis sejak masa sekolah di SMP. Pada masa itu guru-gurunya sudah melibatkannya dalam aktivitas kesenian, khususnya seni lukis, sesuai dengan bakatnya. Meskipun SMP dan SMA di Ngawi yang ditempuhnya berada dalam lingkungan pondok pesantren.

Di tengah jalur profesi tersebut, kecintaannya pada seni lukis tidak pernah benar-benar hilang. Jiwanya meronta. Selama bekerja di kantor advokat justru menjadi salah satu titik ketika ia mulai mempertanyakan pilihan hidup yang dijalaninya. Ada bagian dari dirinya yang merasa bahwa kehidupan profesional yang telah dipersiapkan itu tidak sepenuhnya menjawab kebutuhan pribadinya.

Seni lukis yang sebelumnya hadir sebagai hobi mulai menemukan kedudukan yang lebih penting. Ufa menyadari bahwa melukis bukan sekadar kegiatan untuk mengisi waktu luang, melainkan kebutuhan untuk mengekspresikan diri dan menemukan ruang kebebasan.

Keputusan untuk menempuh jalan tersebut tidak serta-merta membuat segalanya menjadi mudah. Ia harus berhadapan dengan harapan keluarga yang sudah terbentuk selama bertahun-tahun, sekaligus dengan keraguan terhadap kemampuannya sendiri untuk membangun kehidupan sebagai seniman.

Persoalan menjadi semakin rumit karena ayahnya tinggal sendirian di Situbondo, sebab ibunya sudah meninggal dunia sejak Ufa masih sekolah. Anak bungsu tiga bersaudara ini merasa punya kewajiban untuk kembali ke kampung halaman dan menemani ayahnya. Keluarganya berharap ia mengambil alih usaha keluarga berupa produsen bibit padi yang mereka miliki.

Sebelumnya, tanggung jawab meneruskan usaha tersebut direncanakan untuk kakak laki-lakinya yang telah meninggal dunia. Dalam keadaan baru itu, harapan keluarga beralih kepadanya. Ia dihadapkan pada pilihan yang tidak sederhana: memenuhi tanggung jawab keluarga atau memperjuangkan jalan hidup yang selama ini ingin ditempuhnya.

Kepulangan tersebut juga mempertemukannya kembali dengan pola relasi keluarga yang ketat. Ia merasakan tuntutan untuk mematuhi keputusan orang tua, sementara keinginannya untuk berkarya belum memperoleh pengakuan yang diharapkan. Perbedaan pandangan mengenai pekerjaan dan masa depan memunculkan konflik yang melelahkan.

Situasi itu diperberat oleh lingkungan tempat tinggalnya. Di daerah yang belum memiliki apresiasi memadai terhadap pilihan profesi sebagai seniman, keputusan untuk menjadikan seni sebagai jalan hidup tidak selalu mudah dipahami. Bagi sebagian orang, pekerjaan yang dianggap jelas dan menghasilkan secara langsung lebih mudah diterima daripada proses berkarya yang hasil ekonominya tidak selalu dapat dipastikan.

Ufa pun berada pada titik kritis untuk memperjuangkan hidupnya sendiri. Ia harus menentukan: apakah akan terus mengikuti jalan yang dipilihkan untuknya atau mulai membangun kehidupan berdasarkan kebutuhan dan keyakinannya sendiri. Ia memilih terus berkarya, karena sebelumnya dia sudah mengalah pada keadaan. Ufa bertekad akan tetap berkarya. Keputusan itu bukan berarti mengabaikan keluarga atau meniadakan tanggung jawab.

β€œMeski saya memilih tinggal di Situbondo, saya tidak ingin lingkungan tempat tinggal saya membatasi untuk kesekian kalinya,” ujarnya.

Dia menyadari bahwa menjalani kehidupan yang sepenuhnya ditentukan oleh orang lain akan membuatnya semakin jauh dari dirinya sendiri. Ia ingin memiliki ruang untuk mengambil keputusan, mengembangkan kemampuan, dan mempertanggungjawabkan pilihan hidupnya.

Bagi Ufa, kebebasan tersebut harus diperjuangkan, bahkan ketika konsekuensinya adalah menghadapi pertentangan dan ketidakpastian. Dia nekat meninggalkan profesi advokat dan mencebur dalam dunia seni rupa. (bersambung)