• Nasirun, Perupa Ndeso, Petani Seni Rupa, Tanpa Hape
  • Nasirun, Perupa Ndeso, Petani Seni Rupa, Tanpa Hape
  • Nasirun, Perupa Ndeso, Petani Seni Rupa, Tanpa Hape
  • Nasirun, Perupa Ndeso, Petani Seni Rupa, Tanpa Hape
  • Nasirun, Perupa Ndeso, Petani Seni Rupa, Tanpa Hape
  • Nasirun, Perupa Ndeso, Petani Seni Rupa, Tanpa Hape
  • Nasirun, Perupa Ndeso, Petani Seni Rupa, Tanpa Hape
  • Nasirun, Perupa Ndeso, Petani Seni Rupa, Tanpa Hape
  • Nasirun, Perupa Ndeso, Petani Seni Rupa, Tanpa Hape
  • Nasirun, Perupa Ndeso, Petani Seni Rupa, Tanpa Hape
  • Nasirun, Perupa Ndeso, Petani Seni Rupa, Tanpa Hape
  • Nasirun, Perupa Ndeso, Petani Seni Rupa, Tanpa Hape
  • Nasirun, Perupa Ndeso, Petani Seni Rupa, Tanpa Hape
Gulir ke Bawah
Berita

Nasirun, Perupa Ndeso, Petani Seni Rupa, Tanpa Hape

Kontak Media & Pers pr_publication@artsubs.co

SURABAYA – Pelukis Nasirun telah pergi tanggal 1 Oktober yang lalu. Namun kisahnya malah merebak di kalangan teman-temannya. Kisah yang unik, yang istimewa, yang tidak umum, dan hal-hal yang khas seniman nyentrik tersebut.

Dalam acara “Mewicarakan Nasirun” yang dilangsungkan Sabtu (17/10), sosok Nasirun dibaca dari berbagai sisi: sebagai seniman, manusia, sekaligus sebuah cara hidup. Diskusi yang dipandu Nirwan Dewanto itu menghadirkan Jumaldi Alfi, Ugo Untoro, dan penulis serta peneliti budaya Sarah Monica.

Ada satu paradoks yang segera mengemuka. Sepertinya sudah menjadi rahasia umum bahwa Nasirun dikenal sebagai “seniman ndeso”: tidak memegang HP, tidak bisa menyetir mobil, jauh dari teknologi, dan tetap membawa cara hidup masyarakat desa ke tengah medan seni rupa kontemporer. Namun justru dari identitas itulah ia tumbuh menjadi seniman yang mampu meramu tradisi, spiritualitas, sejarah, dan problem kehidupan modern.

Ugo Untoro mengenal Nasirun sejak keduanya sama-sama menempuh pendidikan seni di ISI Yogyakarta. Ugo masuk pada 1988, sedangkan Nasirun lebih dahulu pada 1987. Pertemuan pertama mereka bahkan ditandai oleh sapaan Nasirun sebagai sesama orang Banyumas. Keduanya juga bertetangga dekat di kompleks Bayeman Indah Yogyakarta.

Mereka juga sama-sama berasal dari kultur Ngapak yang, menurut Ugo, memiliki karakter egaliter dan cenderung “to the point”. Karakter itu kemudian terasa kuat dalam diri Nasirun. Ia mampu bergaul dengan berbagai lapisan sosial tanpa terlalu memedulikan status formal.

Nasirun tumbuh sebagai keturunan keluarga kiai dari sebuah desa terpencil di Cilacap. Untuk menempuh pendidikan seni di Yogyakarta, ia mengandalkan tekad, keberanian, dan kemandirian finansial. Ketika lukisan belum menjanjikan penghasilan, ia bahkan mendirikan usaha batik dengan enam pegawai.

Bagi Ugo, pengalaman tersebut memperlihatkan kemampuan Nasirun mengorganisasi orang dan membangun kehidupan bersama. Karakter itu pula yang kemudian membuat rumah Nasirun menjadi ruang terbuka bagi seniman, pekerja, tetangga, maupun siapa saja yang datang. Nasirun selalu menerima tamu siapa saja. Namun toh setiap hari selalu aja ada lukisan barunya.

Karena itu, gaya “ndeso” Nasirun bukan sekadar strategi branding. Ketidak-akrabannya dengan teknologi merupakan bentuk kejujuran terhadap identitasnya. Ia tidak sedang memainkan citra orang desa. Ia memang berasal dari sana dan membawa dunia tersebut ke dalam perjalanan keseniannya.

Akar Banyumasan itu juga terlihat dari kecintaan Nasirun terhadap wayang. Ugo melihat figur Bawor—tokoh Punakawan yang dikenal pemberontak, egaliter, dan kritis—sebagai salah satu cermin karakter Nasirun.

Nasirun bahkan gemar menjadi dalang dan kerap diundang tetangga untuk mendalang dalam acara among-among maupun ulang tahun.

Tarekat Naqsyabandiyah dan Sunda Wiwitan

Sementara Sarah Monica melihat Nasirun sebagai sebuah paradoks: Akarnya sangat dalam pada tradisi, tetapi bahasa yang lahir darinya terus bergerak dan berubah. Nasirun mengambil bahan-bahan dari masa lalu, tetapi tidak berhenti sebagai seniman tradisional. Tradisi justru diproses dan ditransformasikan menjadi bahasa kontemporer. Bagaimana tradisi yang diwarisi dari masa lalu justru menjadi tenaga yang menggerakkan praktik keseniannya.

Sarah Monica (yang akrab disapa Sarmon) adalah seorang penulis, penyair, aktivis, dan peneliti budaya asal Indonesia. Ia dikenal luas karena kiprahnya yang memadukan pendekatan antropologi dengan dunia sastra, seni, dan spiritualitas. Sarah pernah menjadikan Nasirun sebagai subjek penelitian skripsi di Universitas Indonesia pada 2013 berjudul “Tradisi dalam Dimensi Waktu: Analisis Perupa Nasirun dan Karyanya dalam Dinamika Seni Rupa Indonesia.”

Dikatakannya, masa lampau menjadi salah satu sumber penting bagi Nasirun. Dari sang ibu ia mengenal dongeng dan tradisi Sunda Wiwitan, sedangkan dari sang ayah ia bersentuhan dengan ajaran Tarekat Naqsyabandiyah. Setelah ayahnya meninggal, Nasirun sebagai anak keenam dari tujuh bersaudara banyak menghabiskan waktu bersama ibu dan adiknya, menyerap cerita serta kearifan masa lalu.

Namun pengalaman tersebut tidak berhenti sebagai nostalgia. Nasirun menghidupkan kembali ruh masa lalu untuk membaca persoalan masa kini.

Dalam karya “Larut dalam Warna”, misalnya, ia menggunakan metafora visual untuk membaca pergolakan politik dan pertarungan tiga partai besar yang menyingkirkan partai kecil dalam suasana yang chaos.

Di sinilah paradoks Nasirun bekerja: tradisi bukan masa lalu yang dibekukan, melainkan bahan bakar untuk membaca masa kini.

Nasirun pernah menyebut dirinya sebagai “petani seni rupa”. Ungkapan sederhana itu menjelaskan posisi yang ia pilih. Ia tidak mengejar kecenderungan yang sedang dominan.

Ketika surealisme dan karya dekoratif mendapatkan perhatian besar, karya Nasirun pernah dicemooh dan dianggap sekadar hiasan karena belum memiliki pasar kuat. Namun ia tetap berjalan dengan jalurnya sendiri.

Bagi Nasirun, seni bukan sekadar pekerjaan untuk menghasilkan karya yang laku. Seni adalah jalan hidup untuk menjadi manusia yang lebih baik.

Sedangkan Jumaldi Alfi, merasakan sisi tersebut secara personal. Lelaki asal Minang yang Muhammadiyah itu sangat dekat dengan Nasirun yang kental dengan kultur NU.  Alfi heran, sekaligus kagum, bagaimana Nasirun sering mengutipkan ayat-ayat Qur’an dengan ringan yang disampaikan tidak seperti para ustadz berdakwah.

“Saya  sebetulnya mengaku lelah membicarakan Nasirun,” ujar Alfi.

Tetapi hubungan keduanya terlalu dalam untuk diringkas dalam sebuah pembicaraan. Kepergian Nasirun sempat mengganggu pola hidup hariannya. Gairah melukis menghilang dan ia merasa seperti orang linglung.

Biasanya, ketika mengalami kebuntuan ide, Jumaldi kerap datang ke tempat Nasirun. Mereka tidak selalu membicarakan seni. Justru obrolan tentang hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari mampu memberikan energi baru.

Nasirun memiliki kemampuan mengubah hinaan menjadi motivasi. Dari Nasirun pula ia memperoleh pandangan yang sangat berkesan: bagi seorang seniman, kuas adalah media dakwah. Bahwa dakwah tidak harus selalu berupa ceramah. Spiritualitas dapat dituangkan ke dalam karya seni untuk berkomunikasi dan menyampaikan pesan kepada orang yang melihatnya.

“Ada sisi Nasirun yang barangkali tidak tertangkap dari lukisannya, yaitu kemurahan hati,” ungkapnya.

Jumaldi menyebut Nasirun sebagai sosok yang sangat “nyah nyoh”, ringan tangan dan gemar memberikan apa yang dimilikinya. Peci, gantungan kunci, atau benda-benda kecil karya Nasirun dapat berpindah tangan dengan mudah.

Karya-karyanya sendiri dikenal sangat liquid, mudah laku. Meski memiliki nilai ekonomi tinggi, karya Nasirun relatif cepat menemukan pemilik.

Namun kedermawanannya tidak berhenti pada benda. Nasirun pernah menampung dan menghidupi 14 tukang di rumahnya. Ia tidak semata-mata mengharapkan balasan materi, melainkan doa dari keluarga para pekerja tersebut.

Karena itu, ketika Nasirun disebut sebagai maestro, ukuran kebesarannya tidak hanya berada di kanvas. Ada jaringan manusia yang tumbuh di sekelilingnya.

Setelah Nasirun Pergi

Pertanyaan terbesar sekarang ini justru muncul setelah Nasirun tidak ada.

Sekitar dua minggu sebelum meninggal, menurut Ugo, lembaga pembelajaran seni rupa El Asri sempat membicarakan persoalan keberlanjutan peninggalan Nasirun. Ada keyakinan bahwa Nasirun sendiri telah memikirkan strategi bagi keluarganya.

Prinsipnya sederhana: “aja nganthi ilang”—jangan sampai hilang.

Jumaldi menyebut gerakan “Nasirunan” yang digagas di Yogyakarta sebagai upaya menjaga semangat saling tolong-menolong yang menjadi bagian penting dari karakter Nasirun.

Namun Nirwan Dewanto melihat persoalan yang lebih kompleks. Ada setidaknya dua tantangan kebudayaan setelah kepergian Nasirun. Pertama, bagaimana menjaga “Nasirunan” sebagai semangat yang menghidupkan jiwa Nasirun, bukan sekadar menjadikannya label. Kedua, bagaimana mengelola properti dan karya yang ditinggalkan ketika semuanya berada di tangan ahli waris yang belum tentu memiliki passion dan orientasi kebudayaan yang sama.

Belum lagi persoalan perlindungan hukum terhadap properti dan karya. Di titik inilah warisan Nasirun menjadi lebih besar daripada soal siapa yang menyimpan lukisannya.

Nasirun telah pergi, tetapi barangkali justru sekarang percakapan tentang dirinya menjadi semakin penting. Ia meninggalkan lukisan, instalasi, benda-benda, rumah, koleksi, dan berbagai jejak material. Tetapi yang lebih sulit diwariskan adalah cara hidupnya: keterbukaan, kemurahan hati, keberanian mempertahankan identitas, kemampuan menyerap tradisi tanpa terjebak menjadi masa lalu, serta keyakinan bahwa seni dapat menjadi jalan untuk memperbaiki manusia.

Nasirun menunjukkan bahwa menjadi kontemporer tidak selalu berarti meninggalkan tradisi. Sebaliknya, tradisi dapat menjadi tenaga untuk menembus masa kini.

Dari desa terpencil di Cilacap, dari dongeng seorang ibu, ajaran seorang ayah, wayang, kultur Banyumasan, hingga pergaulan dengan dunia seni rupa modern, Nasirun membangun bahasa yang sepenuhnya miliknya. Mungkin itulah yang membuatnya sulit dibaca sekaligus sulit digantikan.

Dan ketika para sahabatnya kini berbicara tentang “Nasirunan”, persoalannya bukan lagi bagaimana mengenang Nasirun. Persoalannya adalah bagaimana memastikan apa yang hidup dalam diri Nasirun tidak ikut dikuburkan bersama jasadnya di Giri Sapto. (*)