NARASI LENGKAP PERS CONFERENCE
Hotel Kokoon, Kamis, 17 September 2026

Henri Nurcahyo: ARTSUBS sebagai Ruang Pertemuan Seni, Publik, dan Pasar
Sebagai moderator, Henri Nurcahyo melihat ARTSUBS sebagai sebuah peristiwa seni yang mencoba mempertemukan dua karakter yang selama ini kerap ditempatkan dalam ruang berbeda, yakni kedalaman artistik sebuah pameran berskala besar dengan dinamika komersial yang melekat pada sebuah art fair. ARTSUBS berada di antara dua wilayah tersebut. Di satu sisi, ia memberikan ruang bagi eksplorasi artistik, gagasan, dan pengalaman estetik yang luas sebagaimana ditemukan dalam peristiwa biennale; di sisi lain, ia juga membuka ruang perjumpaan antara karya, seniman, kolektor, dan pasar.
Perpaduan tersebut tercermin dalam keragaman karya yang ditampilkan. ARTSUBS tidak hanya menghadirkan karya instalasi berskala besar yang dirancang untuk membangun pengalaman visual dan spasial di dalam ruang pamer, tetapi juga menghadirkan karya-karya yang memiliki kemungkinan untuk diapresiasi dan dikoleksi. Dengan demikian, pengunjung tidak berhadapan dengan satu jenis pengalaman seni saja. Ada karya yang mengajak publik memasuki pengalaman ruang, ada yang menawarkan persoalan dan refleksi, dan ada pula karya yang membuka kemungkinan hubungan yang lebih langsung dengan kolektor dan pasar seni.
Kehadiran ARTSUBS menjadi semakin menarik jika ditempatkan dalam konteks kehidupan seni rupa Surabaya. Kota ini sebenarnya memiliki agenda seni yang cukup padat. Pameran, diskusi, pertunjukan, komunitas, aktivitas galeri, dan berbagai kegiatan seni lainnya berlangsung secara berkala. Persoalannya bukan semata-mata ada atau tidak adanya kegiatan, melainkan sejauh mana keberadaan berbagai kegiatan tersebut diketahui dan disadari oleh masyarakat luas. Tingkat awareness publik lokal terhadap dinamika seni rupa masih terus berkembang. Karena itu, tantangan ARTSUBS bukan hanya menyelenggarakan pameran yang besar, tetapi juga membangun kebiasaan publik untuk datang, melihat, mengalami, membicarakan, dan pada akhirnya merasa bahwa seni merupakan bagian dari kehidupan kota.
Dari titik itulah ARTSUBS memiliki arti yang lebih luas. Sebuah pameran besar tidak seharusnya hanya meninggalkan jejak berupa jumlah karya atau jumlah pengunjung, tetapi juga membangun pengetahuan, kebiasaan apresiasi, jaringan, dan hubungan baru di antara berbagai pelaku seni. Jika proses tersebut berlangsung secara konsisten, ARTSUBS dapat menjadi salah satu pintu untuk memperkuat posisi Surabaya dalam peta seni rupa kontemporer Indonesia.
Karena itu, ada harapan agar ARTSUBS tidak berhenti pada penyelenggaraan yang ketiga. Keberlanjutan menjadi persoalan penting, terutama karena membangun sebuah peristiwa seni berskala besar membutuhkan energi, sumber daya, jaringan, dan kerja yang tidak sedikit. ARTSUBS akan memiliki daya hidup yang lebih kuat apabila pengembangannya tidak bertumpu pada satu figur saja, melainkan menjadi kerja bersama berbagai pihak—seniman, kurator, kolektif, galeri, institusi pendidikan, pemerintah, dunia usaha, komunitas, media, kolektor, dan tentu saja publik.
Dengan kolaborasi lintas pihak tersebut, ARTSUBS dapat berkembang dari sebuah inisiatif personal menjadi sebuah ekosistem bersama. Pada akhirnya, keberhasilan ARTSUBS bukan hanya terletak pada kemampuannya menggelar pameran yang semakin besar, melainkan pada kemampuannya membuat semakin banyak orang merasa memiliki hubungan dengan seni. Sebab sebuah peristiwa seni akan benar-benar hidup ketika ia tidak hanya ditunggu oleh kalangan seni, tetapi juga dirasakan sebagai bagian dari kehidupan masyarakat dan kotanya.

Nirwan Dewanto: ARTSUBS dan Lumbung Rekreasi Seni Surabaya
Menurut Nirwan Dewanto, Surabaya memiliki modal ekonomi dan sosial yang kuat untuk mengusung sebuah peristiwa seni rupa berskala besar. Sebagai kota terbesar di Jawa Timur, Surabaya tidak berdiri sendiri. Kota ini menjadi lokus pertemuan berbagai daerah di Jawa Timur dengan latar sosial, budaya, ekonomi, dan kreativitas yang beragam. Karena itu, kehadiran sebuah peristiwa seni berskala besar di Surabaya bukan sesuatu yang berlebihan, melainkan bagian dari kewajaran sebuah kota besar.
Sebuah kota besar yang sehat, menurut Nirwan, semestinya memiliki ruang yang berkembang secara seimbang, bukan hanya dalam bidang ekonomi, tetapi juga seni, olahraga, pengetahuan, dan berbagai bentuk kreativitas. Untuk mencapai kewajaran tersebut diperlukan apa yang ia sebut sebagai semacam “lumbung rekreasi”—ruang yang memungkinkan masyarakat memperoleh pengalaman, pengetahuan, kegembiraan, sekaligus kesempatan untuk bertemu dengan gagasan-gagasan baru. Dalam konteks itulah ARTSUBS hadir sebagai pameran berskala besar, sekaligus sebagai salah satu upaya menghidupkan aktivitas dan perputaran ekonomi kota melalui ekosistem seni.
Namun, ARTSUBS tidak semata-mata hendak berkompetisi dalam ukuran dengan berbagai peristiwa seni besar yang telah lebih dahulu dikenal, seperti Art Jakarta, Biennale, maupun ARTJOG. Yang hendak dibangun ARTSUBS adalah karakter pameran yang memiliki pengalaman ruangnya sendiri. Berbagai unsur yang lazim ditemukan dalam pameran berskala besar—kontras, harmoni, kerumpangan, kepadatan, kejutan, dan hubungan antarkarya—diolah menjadi satu pengalaman yang berlangsung secara langsung di dalam galeri.
Karakter tersebut terlihat dari keberagaman karya seni rupa kontemporer yang ditempatkan dalam satu ruang pamer. Karya-karya yang mungkin memiliki karakter, pendekatan, medium, bahkan gagasan yang sangat berbeda dipertemukan sedemikian rupa sehingga perbedaan itu tidak menjadi kekacauan, melainkan membentuk semacam harmoni yang playful. Justru kontras antarkarya menjadi bagian dari pengalaman melihat ARTSUBS. Publik tidak diarahkan untuk melihat karya sebagai unit-unit yang terpisah, tetapi mengalami keseluruhan pameran sebagai sebuah lanskap seni yang terus bergerak dan saling berhubungan.
Keberagaman itu kemudian diperkuat melalui kolaborasi dengan berbagai kelompok, kolektif, komunitas, maupun institusi lain. Dengan demikian, ARTSUBS tidak hanya menjadi tempat berkumpulnya seniman individual, tetapi juga menjadi ruang bertemunya berbagai energi dan jaringan yang selama ini tumbuh di dalam ekosistem seni. Kolaborasi tersebut penting agar keberagaman tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan dapat dirangkai menjadi suatu pengalaman pameran yang utuh dan memiliki keseimbangan.
Karena itu pula, pendekatan ARTSUBS tidak dibangun melalui tema yang terlalu ketat. ARTSUBS berusaha tetap membuka ruang bagi berbagai praktik seni rupa kontemporer dari beragam latar belakang. Tema berfungsi sebagai pintu masuk untuk membaca pameran, bukan sebagai pagar yang membatasi kemungkinan karya. Dengan pendekatan semacam ini, keberagaman menjadi salah satu kekuatan utama ARTSUBS.
Pada ARTSUBS 2026, gagasan tersebut diterjemahkan melalui tema “Border, Thresholds and Beyond”. Tema ini membuka pembicaraan tentang batas, ambang, dan kemungkinan untuk melampauinya. Seniman tidak hanya ditantang untuk melampaui batas-batas praktik artistiknya sendiri, tetapi juga membuka kemungkinan berkolaborasi dengan berbagai pihak dan bidang lain. Ketika batas tersebut dilampaui, karya tidak lagi hanya berbicara mengenai bentuk atau medium, tetapi dapat membawa pengalaman, persoalan, dan peristiwa yang terekam di dalamnya untuk direnungkan kembali oleh publik.
Dalam pandangan Nirwan, tanggung jawab ARTSUBS juga berkaitan dengan pendidikan dan pembentukan sumber daya manusia dalam ekosistem seni. Salah satu contoh yang terlihat adalah profesi art handler. Selama ini, kebutuhan art handler untuk berbagai kegiatan seni di Surabaya masih banyak dipenuhi dari luar kota, terutama Yogyakarta. ARTSUBS ingin ikut membuka jalan agar Surabaya memiliki tenaga art handler sendiri yang memiliki keterampilan profesional dan dapat berkembang menjadi bagian dari ekosistem seni di kota ini. Dengan demikian, pameran tidak hanya menghadirkan karya, tetapi juga meninggalkan pengetahuan, keterampilan, dan peluang kerja baru.
Pada akhirnya, Nirwan melihat ARTSUBS sebagai sebuah naungan atau inisiatif yang berusaha bersifat inklusif. Surabaya memang menjadi tempat tumbuhnya ARTSUBS, tetapi cita-citanya tidak berhenti pada kepentingan kota. ARTSUBS diharapkan dapat menjadi bagian dari perkembangan seni rupa yang lebih luas, terbuka bagi siapa pun yang ingin terlibat, berkolaborasi, dan menciptakan nilai-nilai baru dalam kehidupan masyarakat.
Dengan demikian, ARTSUBS bukan hanya tentang seberapa besar sebuah pameran dapat digelar, berapa banyak karya yang ditampilkan, atau berapa banyak orang yang datang. Yang lebih penting adalah apa yang tersisa setelah pameran selesai: jaringan yang terbentuk, pengetahuan yang bertambah, profesi yang tumbuh, pengalaman yang dibawa pulang, dan kemungkinan-kemungkinan baru yang sebelumnya belum terpikirkan. Di situlah sebuah peristiwa seni dapat menjadi bagian dari kehidupan sebuah kota—bukan sekadar hadir di dalamnya, tetapi ikut menghidupkannya.

Asmudjo J. Irianto: ARTSUBS dan Pentingnya Ruang Seni Rupa Kontemporer
Menurut Asmudjo J. Irianto, keberadaan seni rupa kontemporer memiliki arti penting bagi kehidupan sebuah kota. Seni rupa bukan hanya persoalan karya dan seniman, tetapi juga dapat menjadi salah satu roda penggerak kehidupan ekonomi sekaligus mempertemukan seniman dengan kolektor dan berbagai lapisan publik. Karena itu, sebuah kota membutuhkan ruang dan peristiwa seni yang memungkinkan karya tidak berhenti sebagai objek yang dipamerkan, tetapi menjadi bagian dari dinamika kehidupan masyarakat.
Dalam konteks tersebut, ARTSUBS dapat dilihat sebagai sebuah simpul besar yang mempertemukan beragam jejaring dan simpul-simpul kecil seni rupa yang selama ini tumbuh melalui berbagai pameran. Pameran-pameran kecil tersebut memiliki keterbatasan masing-masing, baik dari sisi ruang, jumlah karya, jangkauan publik maupun sumber daya. ARTSUBS hadir untuk mempertemukan dan merefleksikan keragaman praktik seni rupa kontemporer tersebut dalam sebuah peristiwa dengan skala yang lebih besar.
Persoalannya, kesempatan masyarakat untuk berjumpa dengan seni rupa kontemporer masih relatif terbatas. Publik pada umumnya bertemu dengan karya seni ketika sebuah pameran berlangsung, sementara kesempatan untuk mengalami, mengamati, dan melakukan kontemplasi terhadap karya masih belum banyak tersedia. Keterbatasan ruang pamer seni rupa kontemporer menjadi salah satu persoalan penting, terutama bagi kota sebesar Surabaya. Padahal, Surabaya memiliki perguruan tinggi yang memiliki reputasi dalam dunia seni, lingkungan intelektual dengan jenjang pendidikan tinggi, termasuk mereka yang telah mencapai tingkat doktoral, serta komunitas seni yang terus berkembang. Potensi tersebut membutuhkan ruang perjumpaan yang memadai.
Bagi Asmudjo, pameran seni berskala besar pada akhirnya akan tumbuh mengikuti kebutuhan publiknya. ARTSUBS menjadi salah satu upaya untuk menjembatani dua kekuatan: kedalaman pengalaman dan refleksi artistik di satu sisi, serta keberadaan kolektor dan ekosistem seni dalam skala besar di sisi lain. Pertemuan antara seniman, karya, publik, kolektor, akademisi, dan berbagai pelaku seni inilah yang memungkinkan sebuah pameran berkembang menjadi ekosistem, bukan sekadar agenda sesaat.
Pengalaman terhadap seni juga bukan hanya persoalan melihat gambar atau membaca penjelasan tentang sebuah karya. Ada pengalaman tubuh ketika seseorang benar-benar hadir di hadapan karya, berada di dalam ruang pamer, merasakan skala instalasi, material, cahaya, bunyi, bahkan suasana keseluruhan pameran. Pengalaman semacam ini dapat membentuk kedekatan dan keterikatan tertentu terhadap seni. Selama ini, pengalaman museum dan ruang seni dengan kualitas semacam itu sering kali harus dicari masyarakat Indonesia di luar negeri, seperti Singapura atau Malaysia. ARTSUBS berupaya mendekatkan pengalaman tersebut kepada masyarakat Surabaya dan sekitarnya, sehingga akses terhadap pengalaman seni rupa kontemporer tidak selalu mengharuskan orang bepergian ke kota atau negara lain.
Dalam gagasan tersebut, ARTSUBS dirancang sebagai ruang yang mempertemukan berbagai kekuatan praktik pameran seni rupa di Indonesia. Ia mencoba mempertemukan kedalaman refleksi artistik yang lazim ditemukan dalam biennale, daya tarik dan estetika seni kontemporer yang berkembang dalam peristiwa seperti ARTJOG, dinamika pasar dan jejaring yang hadir dalam Art Jakarta, serta pendekatan kuratorial dan tata kelola pameran yang memiliki standar museum. Bukan untuk sekadar meniru berbagai peristiwa tersebut, melainkan untuk mengolah berbagai pengalaman itu menjadi sebuah bentuk peristiwa seni yang memiliki karakter sendiri.
Namun, ARTSUBS tidak berhenti pada kepentingan ekosistem seni. Salah satu fungsi penting seni adalah mencanggihkan pikiran: membuka kemungkinan cara pandang baru, membangkitkan kreativitas, dan membuat seseorang mampu melihat dunia dari perspektif yang berbeda. Seni memberikan kesempatan kepada publik untuk berhenti sejenak dari cara berpikir yang sudah mapan, kemudian melihat kembali kenyataan melalui sudut pandang estetik, kritis, dan imajinatif. Dari proses semacam itulah seni dapat menghasilkan efek yang lebih luas dalam kehidupan masyarakat.
Karena itu, ARTSUBS tidak semata-mata dapat dilihat sebagai sebuah pameran seni rupa. Ia merupakan upaya menghadirkan ruang perjumpaan antara karya, seniman, publik, kolektor, pengetahuan, dan berbagai praktik kebudayaan. Lebih jauh, ARTSUBS ingin mendorong tumbuhnya praktik-praktik pameran seni rupa yang lebih beragam dan berkualitas, sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap seni kontemporer. Sebab, ukuran penting sebuah kota tidak hanya terletak pada gedung-gedung yang dibangunnya atau pertumbuhan ekonominya, tetapi juga pada sejauh mana kota tersebut menyediakan ruang bagi warganya untuk berpikir, mengalami, mempertanyakan, dan membayangkan dunia dengan cara yang baru.
Pertanyaan Nur Izzat – Kempalan.com
“Yang ingin saya tanyakan, apa sebenarnya yang membedakan ARTSUBS 1, ARTSUBS 2, dan ARTSUBS 3? Setelah tiga kali penyelenggaraan, perubahan atau perkembangan apa yang ingin dicapai ARTSUBS, baik dari sisi artistik, publik, maupun ekosistem seni di Surabaya?”
Pertanyaan tersebut sekaligus membuka persoalan yang lebih luas mengenai posisi seni dalam perkembangan Kota Surabaya. Sebagai kota yang memiliki basis industri dan aktivitas ekonomi yang kuat, Surabaya selama ini masih menghadapi tantangan dalam menumbuhkan atmosfer seni yang sebanding dengan dinamika ekonominya. Karena itu, keberadaan ARTSUBS dapat menjadi salah satu momentum untuk memperkuat kehidupan seni di kota ini.
Dalam konteks tersebut, media juga dapat mengambil bagian, bukan hanya dengan memberitakan kegiatan seni, tetapi turut membantu membangun perhatian publik dan memperluas dampaknya terhadap kehidupan ekonomi kota. Jika ekosistem seni berkembang, manfaatnya tidak berhenti pada seniman dan penyelenggara pameran, tetapi dapat bersinggungan dengan sektor lain seperti pariwisata, perhotelan, kuliner, transportasi, pendidikan, industri kreatif, hingga berbagai profesi pendukung seni.
Karena itu, diperlukan sinergi antara pelaku seni, media, dunia usaha, masyarakat, dan pemerintah daerah. Dengan dukungan lintas sektor tersebut, Surabaya diharapkan tidak hanya dikenal sebagai kota industri dan perdagangan, tetapi juga semakin mampu membangun atmosfer seni yang hidup. Kota ini bukan hanya bekerja dan berproduksi, tetapi juga memiliki ruang untuk mengalami, merayakan, dan mengembangkan seni. Dengan kata lain, Surabaya tidak hanya harus kuat secara ekonomi, tetapi juga perlu ikut “bernyanyi” melalui seni dan kebudayaan.

Asmudjo J. Irianto: Perjalanan ARTSUBS dari Edisi ke Edisi
Menurut Asmudjo J. Irianto, perbedaan antara ARTSUBS 1, ARTSUBS 2, dan ARTSUBS 3 tentu tidak cukup dilihat hanya dari judul atau tema yang diusung—Ways of Dream, Material Ways, dan pada penyelenggaraan ketiga Border, Thresholds and Beyond. Di balik perubahan tema tersebut terdapat tujuan dan fokus yang berbeda pada setiap penyelenggaraan. Masing-masing edisi merupakan tahapan dalam upaya ARTSUBS membangun peristiwa dan ekosistem seni rupa kontemporer yang semakin luas.
ARTSUBS pertama, melalui tema Ways of Dream, lebih diarahkan pada upaya memetakan seni rupa kontemporer Indonesia. Pada tahap awal tersebut, ARTSUBS berusaha memperlihatkan keragaman praktik dan kecenderungan seni rupa kontemporer yang berkembang di berbagai wilayah Indonesia. Keterlibatan kolektif seni sudah mulai dibangun, meskipun jumlahnya masih relatif terbatas. Edisi pertama dengan demikian menjadi semacam fondasi untuk mengenali medan dan memperlihatkan luasnya lanskap seni rupa kontemporer Indonesia.
Pada ARTSUBS kedua, melalui tema Material Ways, perhatian bergeser pada eksplorasi bahan dan medium sebagai bahasa visual. Material tidak lagi dipandang sekadar sebagai alat untuk menghasilkan sebuah karya, tetapi menjadi bagian penting dari gagasan artistik itu sendiri. Bagaimana seniman memilih, memperlakukan, mengolah, dan mempertemukan berbagai material menjadi bagian dari cara karya berbicara kepada publik.
Sementara itu, ARTSUBS ketiga melalui tema Border, Thresholds and Beyond bergerak lebih jauh, yakni mengeksplorasi batas-batas ekspresi, materialitas, serta kemungkinan menjembatani tradisi lokal dengan konteks global. Tema ini membuka ruang bagi seniman untuk mempertanyakan batas-batas praktik artistiknya sekaligus mencari kemungkinan baru melalui perjumpaan dengan bidang, tradisi, teknologi, maupun pihak lain di luar praktik seni yang selama ini dianggap konvensional.
Perkembangan tersebut juga terlihat dari semakin luasnya keterlibatan kolektif. Jika pada ARTSUBS pertama keterlibatan kolektif masih relatif terbatas, pada penyelenggaraan ketiga jumlah dan ragam kolektif yang diajak berkolaborasi semakin banyak. Hal ini menunjukkan bahwa ARTSUBS tidak hanya berupaya menampilkan karya individual, tetapi juga membangun jaringan dan mempertemukan berbagai praktik seni yang tumbuh dari komunitas.
Dalam membangun ekosistem tersebut, ARTSUBS juga melihat pentingnya karakter publik dan pasar di Surabaya. Pendekatan yang digunakan bersifat proaktif untuk menjangkau segmen pasar tertentu, termasuk kalangan kolektor dan masyarakat dengan daya beli tinggi yang berdomisili di Surabaya. Hal ini memberikan karakter tersendiri bagi ARTSUBS. Ada perbedaan dengan Yogyakarta, misalnya, yang memiliki ekosistem seni dengan karakter berbeda, di mana sebagian kolektor datang dari luar kota sebagai bagian dari perjalanan mereka mengunjungi pusat-pusat seni.
Surabaya memiliki potensi yang berbeda karena terdapat masyarakat dan kolektor yang memang tinggal dan beraktivitas di kota ini. Potensi tersebut perlu didekati secara aktif agar mereka tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga dapat menjadi bagian dari ekosistem seni yang berkembang di Surabaya.
Namun, membangun ekosistem seni tentu tidak dapat dilakukan oleh penyelenggara pameran seorang diri. Karena itu, ARTSUBS berupaya membuka ruang kerja sama dan kolaborasi dengan berbagai pihak. Seniman, kolektif, galeri, kolektor, institusi pendidikan, pemerintah, dunia usaha, media, komunitas, dan publik memiliki peran masing-masing dalam membangun ekosistem tersebut.
Dengan demikian, perjalanan ARTSUBS dari edisi pertama hingga ketiga bukan sekadar pergantian tema. Ada perkembangan gagasan dari pemetaan, menuju eksplorasi material dan medium, kemudian bergerak pada perluasan batas ekspresi dan kolaborasi. Bersamaan dengan itu, jaringan yang dibangun juga semakin luas. Tujuan akhirnya bukan hanya menghasilkan pameran yang semakin besar, tetapi menciptakan ekosistem seni rupa yang semakin hidup, terbuka, dan berkelanjutan di Surabaya serta memiliki hubungan yang lebih luas dengan perkembangan seni rupa kontemporer Indonesia.
Pertanyaan Retno Asri – Global News
“Sejauh ini kita sudah mendengar berbagai alasan dan gagasan di balik penyelenggaraan ARTSUBS. Namun, saya belum mendengar secara langsung dari Mas Rambat: sebenarnya apa yang menjadi alasan utama ARTSUBS terus diselenggarakan hingga tiga kali? Apakah sejak awal ada pertimbangan untuk membangun perputaran ekonomi melalui ekosistem seni di Surabaya? Lalu, jika berbicara mengenai pasar dan kolektor, jenis atau karakter karya seni seperti apa yang selama ini paling diminati? Dengan kata lain, sejauh mana ARTSUBS melihat potensi pertemuan antara kepentingan artistik, publik, dan pasar seni di Surabaya?”

Rambat: Mengapa ARTSUBS Digelar di Surabaya?
Menjawab pertanyaan mengenai alasan ARTSUBS diselenggarakan hingga tiga kali, Rambat menjelaskan bahwa sejak awal terdapat perbedaan mendasar antara orientasi ARTSUBS dengan kegiatan pameran yang diselenggarakan di ruangnya, Jagat Gallery. Jika Jagat Gallery lebih banyak berangkat dari pencarian yang bersifat personal dan intim—sebuah upaya untuk merefleksikan hubungan seseorang dengan dirinya sendiri—maka ARTSUBS memiliki orientasi yang lebih luas, yakni membangun ekosistem seni yang inklusif dan dapat melibatkan masyarakat dalam jumlah yang lebih besar.
Pilihan untuk menjadikan Surabaya sebagai pusat penyelenggaraan ARTSUBS juga bukan keputusan yang bersifat kebetulan. Rambat melihat bahwa jika tujuan utamanya sekadar menyelenggarakan pameran di kota dengan ekosistem seni yang sudah matang, Jakarta merupakan pilihan yang relatif mudah. Di Jakarta, infrastruktur seni, jaringan kolektor, galeri, institusi, pasar, hingga publiknya telah berkembang dan memiliki mekanisme sendiri. Tetapi ARTSUBS justru ingin memberikan dampak di tempat yang masih memiliki ruang besar untuk dibangun. Jawa Timur, dengan Surabaya sebagai pusat aktivitasnya, dipandang memiliki potensi tersebut.
Surabaya bahkan sering kali masih dipandang sebelah mata ketika berbicara tentang pasar seni. Ada anggapan bahwa kota ini tidak memiliki pasar atau publik yang cukup kuat untuk menopang sebuah pameran seni rupa berskala besar. Rambat justru melihat tantangan itu sebagai alasan untuk bergerak. Membangun ekosistem seni di Surabaya, dalam perumpamaan yang ia gunakan, seperti bertani di padang pasir. Medannya mungkin tidak mudah, tetapi justru karena itulah ada dorongan untuk membuktikan bahwa tanah yang selama ini dianggap kurang subur ternyata menyimpan potensi.
Penyelenggaraan ARTSUBS karenanya tidak semata-mata didorong oleh pertimbangan ekonomi. Ada tanggung jawab personal yang mendasari inisiatif tersebut, yakni keyakinan bahwa seni memiliki daya transformatif. Seni bukan hanya barang yang diperjualbelikan atau karya yang dipajang di ruang pamer, tetapi dapat membuka cara berpikir, memperluas wawasan, dan mencerahkan kehidupan masyarakat. Jika ekosistem seni berkembang, manfaatnya pun tidak hanya dirasakan seniman dan kolektor, tetapi dapat merembet kepada berbagai sektor kehidupan kota.
Dalam konteks tersebut, pertanyaan mengenai peredaran ekonomi menjadi bagian penting dari pembicaraan ARTSUBS. Sebab sebuah ekosistem seni tidak mungkin berkembang tanpa adanya pertemuan antara karya, seniman, publik, kolektor, galeri, maupun berbagai profesi pendukungnya. Namun, publik ARTSUBS sendiri tidak berada dalam satu kelompok yang homogen. Spektrumnya sangat beragam, mulai dari kolektor yang telah memiliki pengalaman dan pengetahuan panjang mengenai seni rupa hingga masyarakat awam yang mungkin baru pertama kali memasuki dunia seni kontemporer.
Keragaman audiens tersebut menjadi salah satu tantangan sekaligus karakter ARTSUBS. Pameran tidak dapat hanya berbicara kepada kolektor, tetapi juga tidak mungkin mengabaikan kebutuhan mereka. Karena itu, ARTSUBS berusaha menghadirkan rentang karya yang memungkinkan berbagai kelompok publik menemukan titik perjumpaannya masing-masing. Ada karya yang relatif mudah dicerna dan dinikmati oleh masyarakat luas, tetapi pada saat yang sama terdapat pula karya yang lebih personal, konseptual, dan reflektif yang menawarkan pengalaman berbeda bagi penonton yang memiliki kedalaman apresiasi tertentu.
Dalam perspektif pasar seni, Rambat melihat bahwa karya lukis atau painting masih menjadi salah satu komoditas yang relatif kuat. Salah satu alasannya adalah sifat medium tersebut yang memungkinkan karya lebih mudah diapresiasi dan dimaknai oleh berbagai kalangan. Lukisan juga memiliki tingkat universalitas tertentu sehingga relatif mudah dipahami sebagai objek koleksi. Namun, keberadaan pasar tersebut tidak kemudian menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan ARTSUBS.
Bagi Rambat, yang lebih penting adalah bagaimana ARTSUBS secara bertahap menciptakan pertemuan antara seni dan masyarakat. Dari pertemuan itulah kemudian muncul kemungkinan-kemungkinan baru: masyarakat yang semula hanya datang untuk melihat pameran mulai mengenal seniman, sebagian kemudian tertarik mengoleksi karya, profesi pendukung seni ikut tumbuh, dan jaringan antarpelaku seni semakin luas.
Dengan demikian, tiga kali penyelenggaraan ARTSUBS bukan semata-mata pengulangan sebuah agenda pameran, melainkan bagian dari upaya yang lebih panjang untuk menguji dan membangun ekosistem seni rupa di Surabaya dan Jawa Timur. Jika pada awalnya tantangannya adalah membuktikan bahwa Surabaya memiliki publik seni, maka perjalanan berikutnya adalah memperluas pertemuan antara publik, seniman, kolektor, institusi, dan pasar. Dari sanalah sebuah ekosistem dapat tumbuh—perlahan, mungkin tidak selalu mudah, tetapi berangkat dari keyakinan bahwa padang yang dianggap tandus pun bisa ditanami, selama ada yang bersedia mulai mencangkul. (rara/hn)