I Nyoman Nuarta: Karya Seni Monumental Tidak Lahir Hanya Dari Kemampuan Artistik
SURABAYA: Pematung kenamaan I Nyoman Nuarta mengungkapkan bahwa karya seni berskala monumental tidak lahir hanya dari kemampuan artistik. Di balik sebuah karya besar terdapat keberanian mengajukan gagasan, kemampuan membangun jaringan, perhitungan teknis yang matang, serta kecakapan meyakinkan pihak yang memiliki kewenangan dan sumber daya.
Hal itu disampaikan Nyoman Nuarta dalam forum “Seniman Wicara”, bagian dari rangkaian ARTSUBS 2026, di selasar Balai Budaya, Surabaya, Minggu sore (20/9). Dalam dialog bersama kurator ARTSUBS, Nirwan Dewanto, Nuarta memaparkan perjalanan kreatifnya sebagai pematung sekaligus berbagai kendala yang harus dihadapi ketika mengerjakan proyek-proyek berskala besar.
Nuarta, seniman kelahiran Tabanan, Bali, yang kini bermukim dan berkarya di Bandung, dikenal melalui sejumlah karya monumental, antara lain Garuda Wisnu Kencana (GWK) di Bali, Monumen Jalesveva Jayamahe di Surabaya, Patung Arjuna Wijaya di Jakarta, dan Monumen Proklamasi Indonesia. Ia juga merupakan perancang Istana Garuda di Ibu Kota Nusantara (IKN).
Menurut Nuarta, sebagian proyek awalnya justru berangkat dari inisiatif pribadi. Ia terlebih dahulu menciptakan gagasan proyek, kemudian menyodorkannya kepada berbagai pihak untuk mencari kemungkinan dukungan dan pendanaan.
“Pertama-tama adalah mengajukan proposal proyek. Saya membuat proyek gagasannya terlebih dahulu, lalu menawarkannya kepada pihak mana pun,” kata Nuarta.
Strategi itu, menurut dia, ditempuh dengan membangun jaringan dengan berbagai pihak, mulai dari pemerintah hingga sektor swasta. Dengan cara tersebut, gagasan yang semula hanya berada di atas kertas dapat berkembang menjadi proyek nyata.
Salah satu contoh paling ekstrem adalah proyek Garuda Wisnu Kencana (GWK) di Bali. Gagasan tentang GWK telah dirancang Nuarta sejak dekade 1980-an dan baru kemudian berkembang menjadi kawasan budaya yang dikenal luas hingga sekarang. Patung GWK sendiri memiliki tinggi sekitar 121 meter dan diresmikan pada 2018.
Dalam forum tersebut Nuarta menceritakan bahwa dirinya bahkan menyiapkan lahan pribadi seluas 23 hektare untuk proyek tersebut.
“Saya menyiapkan lahan pribadi seluas 23 hektare. Ketika tidak ada pihak yang membantu, saya melapor kepada Presiden Soeharto, hingga akhirnya beliau mencairkan pinjaman sebesar Rp23 miliar,” tuturnya.
Namun perjalanan proyek itu tidak berlangsung mulus. Menurut Nuarta, setelah proyek berjalan sekitar delapan tahun, pinjaman tersebut mulai ditagih. Ia bahkan sempat menawarkan aset senilai sekitar Rp1,3 triliun kepada negara, tetapi menurut pengakuannya, langkah tersebut tidak memperoleh kepastian tindak lanjut.
“Begitu banyak polemik dan dinamika yang terjadi,” katanya.
Dalam perkembangannya, Nuarta kemudian bekerja sama dengan Grup Alam Sutera. Kawasan GWK akhirnya berkembang menjadi destinasi wisata dan budaya yang ramai dikunjungi masyarakat.
Bagi Nuarta, pengalaman tersebut membuktikan bahwa sebuah karya seni monumental harus mampu membangun hubungan dengan masyarakat. Kualitas karya, menurut dia, pada akhirnya harus dapat dibuktikan secara nyata.
Teknologi untuk Menekan Biaya
Nuarta juga mengungkapkan bahwa sejak 1993 dirinya telah mematenkan teknik pembuatan patung organis berskala besar dengan pembesaran skala dan pola segmentasi. Teknik tersebut menjadi salah satu dasar dalam mengembangkan metode pembangunan karya monumental secara lebih efisien. Institut Teknologi Bandung mencatat bahwa hak paten tersebut diperoleh Nuarta pada 1993.
“Menjual karya seni itu tidak mudah. Dibutuhkan pembuktian konkret, bukan sekadar janji,” katanya.
Ia mengatakan, standar HSE (Health, Safety, Environment) dan K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) yang diterapkan dalam organisasinya bahkan menjadi rujukan bagi pihak lain.
Menurut Nuarta, efisiensi konstruksi dapat dilakukan hingga sekitar 40 persen melalui penggunaan sistem kerangka khusus sehingga tidak membutuhkan panggung penyangga atau scaffolding dalam proses pengerjaan tertentu.
Penguasaan teknologi tersebut, kata dia, membuat seniman tidak harus selalu menyerahkan persoalan teknis kepada pihak lain. Justru, pemahaman terhadap konstruksi menjadi bagian penting dalam mewujudkan gagasan artistik berskala besar.
Pengalaman tersebut kembali diuji ketika Nuarta mengerjakan desain Istana Garuda di IKN. Ia mengungkapkan bahwa proyek tersebut dapat diselesaikan dalam waktu sekitar 11 bulan. Secara kasatmata, kata dia, target tersebut mungkin terlihat sulit dicapai. Namun perhitungan yang matang membuatnya berani menyanggupi target tersebut.
“Saya berani berjanji karena sudah mengalkulasi seluruh pengalaman dari proyek GWK,” ujarnya.
Menurut Nuarta, pembangunan GWK justru menghadirkan tantangan teknis yang lebih rumit karena ukurannya sangat besar dan harus menghadapi terpaan angin. Karena itu, pengalaman dari proyek tersebut menjadi modal penting ketika mengerjakan proyek Istana Garuda.
Ia menyebut keberhasilan proyek tersebut bukan semata-mata karena kemampuan dirinya sebagai seniman, melainkan karena adanya tim yang mampu menerjemahkan konsep menjadi pekerjaan teknis secara presisi.
Institut Teknologi Bandung juga mencatat bahwa konsep Istana Garuda yang dikembangkan Nuarta menggunakan pendekatan “archsculpt”, yakni penggabungan antara seni patung dan arsitektur.
Dalam diskusi tersebut, Nuarta menekankan satu kemampuan yang menurut dia sering diabaikan seniman: menyusun narasi. Seorang seniman, katanya, tidak cukup hanya memiliki gagasan artistik. Ia harus memahami konteks di luar karya, mulai dari kondisi lingkungan, karakter masyarakat, hingga kepentingan pihak-pihak yang akan terlibat.
“Kita wajib meneliti aspek ekstrinsik dan intrinsik, memahami kondisi lingkungan sekitar, serta karakter orang-orang di dalamnya,” katanya.
Menurut dia, jaringan memang penting, tetapi jaringan saja tidak cukup. Seniman tetap harus mampu menemukan cara yang tepat untuk menawarkan gagasan.
“Tidak ada yang mudah. Meskipun memiliki jaringan relasi, kita tetap harus cerdik mencari celah yang elegan dalam menawarkan gagasan.”
Dalam konteks itulah, Nuarta melihat seni tidak dapat dipisahkan dari kemampuan membaca peluang. Ia mencontohkan sektor pariwisata Indonesia yang menurutnya memiliki potensi besar untuk bersaing di tingkat internasional. Gagasan-gagasan mengenai pengembangan pariwisata, menurut dia, harus dikemas dalam narasi yang realistis sehingga dapat diterima oleh pengambil keputusan.
“Seorang pematung harus berpikir realistis agar konsepnya cepat disetujui,” katanya.
Bagi Nuarta, gagasan yang pada awalnya tampak seperti imajinasi sekalipun dapat diwujudkan menjadi kenyataan jika disampaikan melalui narasi yang rasional, didukung perhitungan teknis yang matang, dan ditawarkan dengan cara yang tepat.
Dari GWK hingga Istana Garuda, perjalanan Nuarta menunjukkan bahwa karya monumental tidak berhenti pada proses mencipta. Setelah gagasan lahir, masih ada pekerjaan yang tidak kalah penting: meyakinkan orang lain bahwa gagasan tersebut layak diwujudkan.
Menekuni Seni Patung
Pilihan Nyoman Nuarta menekuni seni patung sebenarnya berangkat dari sebuah kesadaran sederhana: pada masa itu, seni patung belum sepopuler seni lukis. Ketika pertama kali masuk Institut Teknologi Bandung (ITB), ia bahkan baru menyadari bahwa seni patung merupakan bidang seni yang jauh lebih luas daripada sekadar arca seperti yang selama ini ada dalam bayangannya.
Kesadaran itulah yang kemudian mendorongnya untuk ikut mempromosikan seni patung. Sejak lama Nuarta mengusung istilah Arsculpt, kependekan dari Architectural Sculpture. Baginya, seni tidak semestinya dikurung oleh batas-batas disiplin yang kaku.
“Seni sejatinya tidak boleh dibatasi dan harus bebas,” katanya.
Pandangan tersebut kemudian menarik perhatian Nirwan Dewanto yang bertanya bagaimana Nuarta bisa sampai pada pemahaman itu, sementara ia merupakan murid Rita Widagdo, salah satu dosen seni rupa ITB pada masa itu.
Nuarta mengaku sangat mengagumi Rita Widagdo, terutama karena penguasaannya terhadap unsur-unsur estetika seperti garis dan ruang. Namun, kekaguman itu justru tidak membuatnya ingin mengikuti jejak sang guru.
“Saya tidak ingin mengekor beliau. Saya harus orisinal agar memiliki identitas dan integritas,” ujarnya.
Bagi Nuarta, karya yang mengikuti aliran konvensional memang bisa saja terlihat bagus. Namun, persoalannya bukan sekadar apakah sebuah karya terlihat bagus atau tidak. Ia merasa jiwanya memang tidak berada di sana.
Pilihan untuk mencari jalan sendiri itu perlahan membuahkan hasil. Karya-karya Nuarta mulai mendapatkan perhatian dan semakin banyak pihak yang tertarik. Perkembangan tersebut bahkan membuat kegiatan berkesenian yang dijalaninya berkembang menjadi sebuah ekosistem produksi yang melibatkan banyak orang.
Pada suatu masa, Nuarta mengaku pernah mempekerjakan hingga sekitar 1.000 orang. Kini jumlahnya sekitar 400 orang.
Bagi Nuarta, perjalanan tersebut menjadi bukti bahwa seni patung tidak hanya berbicara mengenai ekspresi artistik, tetapi juga dapat menjadi sumber penghidupan bagi banyak orang.
“Seni patung terbukti mampu memberikan penghidupan, dan kami bangga dapat menopang banyak tenaga kerja melalui karya seni,” katanya.
Ekosistem itu pun terus dikembangkan. Saat ini Nuarta sedang membangun fasilitas baru berupa teater dan galeri yang akan menjadi bagian dari pengembangan NuArt. Ia menyebutnya NuArt 1 dan NuArt 2. Selain menjadi tempat penyimpanan karya-karyanya sekaligus semacam museum, ruang tersebut juga disiapkan sebagai ruang pamer bagi seniman lain. Pembangunan fasilitas baru itu diharapkan dapat rampung pada Desember.
Dengan demikian, perjalanan Nuarta tidak berhenti pada penciptaan patung. Dari kegelisahan terhadap posisi seni patung yang dulu dianggap kurang populer, ia justru membangun ruang yang mempertemukan seni, arsitektur, industri kreatif, tenaga kerja, dan publik. Batas antara patung dan bidang lain yang sejak awal ingin diterobosnya perlahan berubah menjadi sebuah ekosistem seni yang nyata. (hn)