Gerabah: Dari Warisan Tradisi ke Panggung Seni Kontemporer
SURABAYA: Gerabah tidak harus berhenti sebagai peninggalan tradisi. Di tangan seniman, tanah liat, teknik pembuatan, dan pengetahuan yang diwariskan turun-temurun dapat dibaca kembali sebagai bahasa seni kontemporer. Namun, di balik peluang itu, ada persoalan yang tak bisa diabaikan: ketika pasar menyusut dan keterampilan perajin perlahan menghilang, siapa yang akan meneruskan tradisi tersebut?
Pertanyaan itu mempertemukan dua kisah berbeda dari Sitiwinangun, Cirebon, dan Gosari, Gresik. Sitiwinangun masih memiliki perajin yang bertahan, meski jenis produk dan jumlah pembuatnya terus menyusut. Sementara itu, Gosari menyimpan jejak kejayaan produksi gerabah masa lampau, tetapi tradisi pembuatannya telah terputus. Kini, kawasan tersebut lebih dikenal sebagai Wisata Desa Gosari (Wagos), tanpa kegiatan produksi gerabah yang dahulu menjadi bagian dari sejarahnya.
Dua desa ini memperlihatkan bahwa warisan gerabah bukan sekadar persoalan benda atau teknik produksi. Di dalamnya terdapat pengetahuan material, keterampilan tangan, identitas lokal, dan ingatan kolektif masyarakat. Ketika gerabah kehilangan fungsi ekonominya, seluruh mata rantai kebudayaan yang menopangnya ikut terancam.
Di Sitiwinangun, peluang untuk menjaga keberlanjutan tradisi itu antara lain muncul melalui kolaborasi seniman dan perajin. Iftikhar Ahmad Radjwie mendampingi para perajin setempat dan mengembangkan karya-karya kolaboratif yang ditampilkan dalam ARTSUBS 2026 di Balai Pemuda, Surabaya. Melalui pendekatan tersebut, gerabah tidak hanya dipandang sebagai produk kerajinan, tetapi juga sebagai sumber gagasan artistik.
Sementara itu, Arik S. Wartono membawa perhatian pada Gosari melalui penelusuran sejarah, rekonstruksi artistik, dan gagasan untuk menghidupkan kembali keterampilan gerabah di desa tersebut.
Kedua pengalaman itu menjadi bagian dari Wicara Seniman bertajuk βDesa Gerabah: Antara Tradisi, Modernitas, dan Seni Rupa Kontemporerβ dalam rangkaian ARTSUBS 2026, Minggu, 25 Oktober 2026. Diskusi yang menghadirkan Iftikhar Ahmad Radjwie dan Arik S. Wartono, dengan Asmudjo J. Irianto sebagai moderator, membahas kemungkinan mempertemukan tradisi gerabah dengan kebutuhan dan pemikiran seni masa kini.
Bagi Iftikhar, gerabah sejak dahulu tidak pernah hanya menjadi benda seni. Kehadirannya merentang dari kebutuhan rumah tangga hingga kegiatan spiritual, ritual, arsitektur, dan dekorasi. Gerabah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat sekaligus menyimpan pengetahuan tentang kebudayaan yang melahirkannya.
Namun, perubahan zaman turut mengubah hubungan masyarakat dengan benda-benda tersebut.
Produk berbahan plastik dan material lain menggantikan sebagian fungsi gerabah. Mangkuk, piring, dan berbagai peralatan rumah tangga yang dahulu dibuat oleh perajin tradisional semakin kehilangan pasar. Para perajin pun menghadapi pilihan sulit: mempertahankan produk lama yang semakin tidak laku atau mencari bentuk produksi baru agar tetap memperoleh penghasilan.
Padahal, menurut alumnus ITB ini, keramik tidak semata-mata merupakan benda seni. Ia juga menjadi benda utilitas domestik yang menyimpan nilai-nilai kehidupan di dalamnya. Karena itu, memahami gerabah tidak cukup hanya dengan melihat bentuk akhirnya. Perlu pula ditelusuri karakteristik material, teknik pembuatan, serta hubungan benda tersebut dengan kehidupan masyarakat.
Ketertarikan itu membawanya ke Sitiwinangun. Di sana, ia melihat bahwa praktik tradisional menyimpan kemungkinan yang berdekatan dengan pemikiran seni kontemporer.
Para perajin dapat menggabungkan unsur budaya yang dianggap adiluhung dengan hal-hal yang berasal dari kehidupan sehari-hari. Bentuk gerabah bahkan dapat dikembangkan menjadi figur populer atau karakter yang tidak terikat sepenuhnya pada konvensi tradisional.
Bagi Iftikhar, praktik semacam itu memperlihatkan bahwa sikap kontemporer tidak harus lahir dari pendidikan seni formal atau ruang-ruang seni modern. Dalam praktik tradisional pun, keterbukaan terhadap perubahan dan pencampuran unsur telah berlangsung.
Yang membedakan adalah bagaimana potensi tersebut dikembangkan, dibaca, dan diberi ruang untuk tumbuh.
Keterampilan Perajin Terancam
Persoalan paling mendesak di Sitiwinangun justru terletak pada keberlanjutan keterampilan para perajin.
Iftikhar mengingat kunjungan pertamanya pada 2020, ketika jenis produk gerabah yang dikerjakan masih beragam. Mangkuk, piring, gentong, dan berbagai bentuk lain menjadi bagian dari kegiatan produksi.
Kini, menurut pengamatannya, jenis produk yang masih dibuat semakin terbatas. Gentong untuk kebutuhan tertentu dan kowi yang digunakan dalam proses peleburan emas termasuk di antara produk yang masih bertahan. Produk lain tidak lagi dibuat secara rutin, kecuali jika ada pesanan.
Lebih mengkhawatirkan lagi, keterampilan membuat momoloβsalah satu bentuk produk gerabah yang dibicarakan dalam diskusiβyang dahulu dikuasai beberapa perajin, menurut Iftikhar kini hanya tersisa pada satu orang.
Penurunan keterampilan juga terlihat pada ketepatan bentuk dan pengerjaan dekorasi. Pengetahuan yang sebelumnya diwariskan melalui praktik sehari-hari tidak otomatis berpindah kepada generasi berikutnya.
Berbagai pelatihan dan intervensi dari akademisi maupun pemerintah memang dapat membantu. Penggunaan cetakan, misalnya, memungkinkan bentuk produk lebih konsisten ketika pekerjaan berpindah dari satu perajin ke perajin lain. Namun, teknologi bantu tidak serta-merta menggantikan seluruh pengetahuan yang terbentuk melalui pengalaman panjang seorang perajin.
Di sinilah persoalan regenerasi menjadi penting. Jika tidak ada generasi baru yang belajar, pengetahuan tersebut berisiko berhenti bersama orang-orang yang selama ini menguasainya.
Para perajin berusaha bertahan dengan beralih ke produk dekoratif, suvenir, dan barang pajangan. Akan tetapi, perubahan jenis produk belum tentu menyelesaikan masalah apabila pasarnya terbatas atau penghasilannya tidak memadai.
Dalam sejumlah proyek kolaborasi, Iftikhar memesan produk kepada perajin, kemudian menyempurnakan bentuk atau penyelesaian akhirnya agar memiliki nilai artistik yang lebih kuat. Sebagian hasil penjualan dikembalikan kepada perajin untuk membantu keberlanjutan usaha mereka.
Praktik ini memperlihatkan kemungkinan hubungan yang saling menguntungkan antara seniman dan perajin. Namun, sekaligus muncul pertanyaan: bagaimana kemampuan artistik dan teknis yang telah berkembang selama puluhan tahun dapat terus hidup tanpa harus selalu bergantung pada intervensi seniman dari luar?
Gosari: Sejarah yang Tersisa
Jika Sitiwinangun masih berjuang mempertahankan tradisi produksi, Gosari menghadapi persoalan yang lebih mendasar. Di desa di wilayah Gresik ini, tradisi pembuatan gerabah telah menghilang, sementara jejak arkeologisnya masih tersimpan di kawasan tersebut.
Arik S. Wartono, seniman asal Gresik yang pernah menggelar pameran Dari Gosari ke Kasongan pada September 2026, membawa persoalan itu ke dalam diskusi ARTSUBS. Melalui penelusuran sejarah dan rekonstruksi artistik, ia mencoba membaca hubungan antara situs gerabah kuno di Gosari dan perkembangan tradisi gerabah Jawa hingga sentra Kasongan di Yogyakarta.
Menurut paparan Arik, aktivitas produksi gerabah di Gosari berlangsung sekitar abad ke-12 hingga abad ke-15. Ia merujuk pada penelitian arkeologi yang mengungkap berbagai temuan di situs tersebut.
Temuan itu tidak hanya berupa fragmen gerabah, tetapi juga tungku pembakaran, keramik, koin, sendang, makam kuno, dan prasasti. Keseluruhannya menunjukkan bahwa Gosari menyimpan jejak kehidupan dan kegiatan produksi pada masa lampau.
Salah satu hal yang paling membekas bagi Arik adalah timbunan pecahan gerabah yang pernah membukit hingga setinggi menara masjid. Ia mengingat bahwa pada 2003, timbunan tersebut masih terlihat jelas.
Bayangkan berabad-abad kegiatan produksi yang meninggalkan begitu banyak pecahan. Benda-benda yang dianggap gagal atau tidak layak pakai dibuang di tempat yang sama hingga akhirnya membentuk timbunan besar.
Ironisnya, ketika masyarakat tidak lagi memproduksi gerabah, timbunan yang menyimpan jejak sejarah itu justru sempat dianggap sebagai material yang tidak berguna. Sebagian kawasan pernah diratakan menggunakan buldoser untuk rencana pembangunan lapangan sepak bola.
Kisah tersebut menunjukkan bahwa nilai sebuah benda tidak selalu dipahami oleh masyarakat pada setiap zaman. Apa yang dahulu dianggap sebagai sisa produksi kini dapat menjadi sumber penting untuk memahami sejarah teknologi, ekonomi, dan kebudayaan.
Namun, pelestarian situs tidak cukup berhenti pada pengakuan bahwa tempat itu memiliki nilai sejarah. Temuan arkeologis membutuhkan perlindungan, penelitian lanjutan, dan pengelolaan yang memadai. Tanpa itu, situs yang berharga dapat mengalami kerusakan, sementara pengetahuan yang terkandung di dalamnya tidak sempat diwariskan.
Arik mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi tungku pembakaran yang perlu dirawat kembali. Keterbatasan pendanaan membuat upaya pelestarian sulit dilakukan secara optimal. Karena itu, ia memandang perlu adanya pendekatan kreatif yang melibatkan lebih banyak pihak.
Salah satu gagasannya adalah mengembangkan Gosari sebagai ruang pembelajaran arkeologi bagi anak-anak. Mereka tidak hanya diajak mendengar cerita sejarah, tetapi juga mengenal situs, mempelajari fragmen gerabah, dan memahami bagaimana para ahli menyusun pengetahuan berdasarkan bukti yang ditemukan.
Dengan pendekatan itu, sejarah dapat menjadi pengalaman konkret. Pecahan gerabah bukan lagi benda yang tampak tidak berguna, melainkan pintu masuk untuk memahami kehidupan manusia pada masa lampau.
Arik juga membayangkan Gosari menjadi tempat residensi seniman. Seniman dari berbagai daerah, bahkan dari luar negeri, dapat tinggal dan berkarya selama satu atau dua minggu. Kegiatan tersebut diharapkan menghasilkan karya sekaligus membuka perhatian baru terhadap situs dan masyarakat di sekitarnya.
Namun, gagasan itu tidak semestinya berhenti pada penciptaan karya seni. Kegiatan kreatif perlu dihubungkan dengan upaya pemeliharaan dan pelestarian situs.
Arik juga mengusulkan kerja sama antara masyarakat Gosari dan perajin dari sentra yang masih aktif, seperti Kasongan. Melalui kolaborasi tersebut, masyarakat Gosari dapat belajar kembali membuat gerabah, mengembangkan produk untuk kebutuhan wisata, dan perlahan membangun keterampilan yang pernah hilang.
Meski demikian, hubungan sejarah antara Gosari dan Kasongan yang ia ajukan masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Gagasan tersebut merupakan arah penelusuran yang menarik, bukan kesimpulan yang dapat diterima tanpa pembuktian.
Justru di sinilah kolaborasi dengan peneliti, arkeolog, perajin, dan seniman menjadi penting: bukan hanya untuk menghasilkan narasi yang menarik, melainkan juga untuk menguji, memperkaya, dan mengembangkan pengetahuan.
Dari Tradisi ke Panggung Seni Kontemporer
Pengalaman Sitiwinangun dan Gosari memperlihatkan dua kemungkinan berbeda dalam mempertemukan gerabah dengan seni kontemporer. Di Sitiwinangun, keterampilan yang masih bertahan dapat menjadi dasar penciptaan karya kolaboratif. Di Gosari, jejak arkeologis dan sejarah produksi dapat membuka jalan bagi penelitian, pembelajaran, dan upaya membangun kembali keterampilan yang telah hilang.
Dalam kedua kasus itu, seni kontemporer menawarkan cara pandang baru. Gerabah tidak hanya dinilai berdasarkan fungsi dan bentuk tradisionalnya, tetapi juga dapat dibaca sebagai artefak budaya, sumber pengetahuan material, dan medium untuk membicarakan hubungan manusia dengan lingkungan serta sejarahnya.
Dalam pandangan Asmudjo J. Irianto, seni rupa kontemporer dapat mengambil peran advokasi: memperkenalkan persoalan, membuka perhatian publik, dan mempertemukan pihak-pihak yang dapat bekerja sama. Namun, pameran seni tidak dapat sendirian menyelesaikan masalah ekonomi dan keberlanjutan produksi.
Pengembangan desa gerabah membutuhkan keterlibatan banyak pihak, mulai dari pemerintah, akademisi, seniman, perajin, pelaku industri, hingga pembeli. Pasar juga perlu dibangun, bukan hanya dengan menjual produk sebagai benda tradisional, tetapi dengan menemukan kegunaan dan nilai baru yang relevan bagi kehidupan sekarang.
Dalam diskusi tersebut, muncul pula gagasan untuk mempertemukan gerabah dengan arsitektur dan desain. Material terakota, misalnya, memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi elemen bangunan, ubin, pot, saluran air, dan berbagai kebutuhan lain. Pengembangan semacam ini memungkinkan tradisi gerabah kembali memasuki kehidupan sehari-hari, bukan hanya menjadi objek pajangan.
Tentu saja, upaya tersebut membutuhkan riset, pengujian teknis, desain, perhitungan biaya, dan kepastian pasar. Tradisi tidak harus dibekukan dalam bentuk lama, tetapi pembaruan juga tidak boleh menghapus pengetahuan dan identitas yang membuatnya bernilai.
Di sinilah ARTSUBS dapat menjadi salah satu ruang untuk memperkenalkan potensi tersebut. Pameran dan diskusi dapat mempertemukan gagasan, memperluas jaringan, serta memunculkan kemungkinan kolaborasi. Namun, pekerjaan berikutnya harus berlangsung di luar ruang pamer, melalui program yang berkelanjutan dan melibatkan masyarakat setempat.
Menyelamatkan Pengetahuan
Kisah Sitiwinangun dan Gosari mengingatkan bahwa tradisi tidak hilang dalam satu malam. Ia memudar ketika fungsi produk tergantikan, pasar menyusut, perajin menua, dan tidak ada generasi baru yang meneruskan keterampilan mereka.
Ketika tradisi itu akhirnya terputus, yang tersisa mungkin hanya benda-benda lama, fragmen, tungku, atau catatan penelitian. Semua itu penting, tetapi tidak sepenuhnya dapat menggantikan pengetahuan yang hidup di tangan para perajin.
Karena itu, menyelamatkan gerabah tidak cukup dilakukan dengan menyimpan artefaknya, menggelar pameran, atau mengundang seniman untuk membuat karya kolaborasi. Semua upaya tersebut dapat menjadi pintu masuk, tetapi harus disertai pembelajaran keterampilan, pengembangan produk, perluasan pasar, pendampingan perajin, dan perlindungan situs sejarah.
Seni rupa kontemporer dapat membantu kita melihat gerabah dengan cara baru. Ia dapat mengubah pecahan menjadi cerita, tanah liat menjadi pernyataan artistik, dan tradisi lokal menjadi bagian dari percakapan kebudayaan yang lebih luas.
Namun, ukuran keberhasilannya bukan semata-mata seberapa menarik gerabah tampil di ruang pamer. Yang lebih penting adalah apakah setelah pameran berakhir, perajin masih memiliki pekerjaan, anak-anak masih bisa belajar dari para pendahulunya, dan masyarakat masih mempunyai alasan untuk meneruskan tradisi tersebut.
Sebab, membawa gerabah ke panggung seni kontemporer bukanlah tujuan akhir. Yang jauh lebih penting ialah memastikan bahwa di balik karya-karya yang dipamerkan, pengetahuan, keterampilan, dan kehidupan masyarakat yang melahirkannya tetap berlanjut.
Ketika sebuah desa kehilangan gerabahnya, yang hilang bukan hanya produk. Yang perlahan menghilang adalah kemampuan sebuah masyarakat untuk mewariskan pengetahuannya sendiri. Dan pengetahuan yang telah terputus jauh lebih sulit dipulihkan daripada sebongkah tanah liat. (hn, rara)