Dari Kota Kecil 3 Perupa Menembus Mancanegara
SURABAYA – Sejarah seni rupa mencatat bahwa banyak seniman besar justru berkarya di kota-kota besar. Padahal hanya ada dua kota besar yang memiliki ciri urban paling kuat di Jawa Timur, yaitu Surabaya dan Malang. Kota besar dalam pengertian ini adalah kota industri atau kota perdagangan yang telah berkembang secara urban sejak lama. Tetapi dalam konteks seni rupa kontemporer, ternyata banyak ditemukan seniman yang tidak berkarya di kota-kota besar, dan mereka sanggup menembus mancanegara.
Selain dua kota besar di atas, Kota Batu selama ini dikenal aktif menyelenggarakan aktivitas seni rupa. Di Banyuwangi minimal ada pameran tahunan setiap akhir tahun. Hal yang sama, bahkan lebih, bisa disebut Kabupaten Pasuruan. Dan salah satu perupa Pasuruan yang potensial adalah Garis Edelweis yang ternyata mampu menembus dunia global.
Dalam acara Wicara Seniman di Balai Budaya Surabaya Sabtu kemarin (17/10) Garis dihadirkan menjadi salah satu narasumber, bersama dengan Dwi Januartanto (Lamongan) dan Ufa Faizah (Situbondo). Kalau toh Lamongan masih sesekali terdengar aktivitas seni rupanya, tapi Situbondo seperti anomali. Kok ya ada perupa kontemporer di kota kecil itu. Lagi-lagi, seperti halnya Garis, karya Dwi dan Ufa juga mampu menembus mancanegara. Ketiganya adalah peserta pameran seni kontemporer Artsubs yang berlangsung di Balai Pemuda sejak 19 September hingga 8 November nanti.
Dalam kata pengantarnya, Nirwan Dewanto selaku moderator menuturkan, bahwa Picasso, misalnya, besar di Paris meskipun ia orang Spanyol. Jackson Pollock dan Barnett Newman berkembang di New York. S. Sudjojono, orang Jawa yang lahir di Sumatra, berkarya di Jakarta dan Yogyakarta. Dan yang disebut Yogyakarta itu, meskipun merupakan kota yang relatif kecil, jangan lupa pernah menjadi ibu kota Republik Indonesia pada masa perjuangan. Sekarang Yogyakarta bahkan dianggap sebagai salah satu ibu kota seni rupa kontemporer Indonesia.
Namun, ternyata ada fakta lain. Di Jawa Timur terdapat seniman yang tidak berkarya di kota-kota besar. Mereka tetap berkarya di kota masing-masing, dalam hal ini: Lamongan, Situbondo, dan Pasuruan.
Kita ingin melihat, kata Nirwan, bagaimana sebenarnya mereka hidup dan bekerja di lingkungan yang secara kultural jaraknya cukup jauh dari apa yang selama ini dianggap sebagai ibu kota seni rupa kontemporer Indonesia. Juga jauh dari pusat medan seni rupa kontemporer Indonesia. Bagaimana sebenarnya kota-kota kecil—kalau boleh disebut demikian—menjadi lingkungan bagi perkembangan praktik seni rupa mereka.
Tiga Jalan Berbeda Menuju Dunia Seni
Dari dari ketiga perupa: Dwi, Ufa, dan Garis, ternyata hanya Dwi Januartanto yang belajar formal seni rupa di Universitas Negeri Surabaya. Tinggal di daerah asalnya, Lamongan, malah memulai menjadi petani melon dan brambang, tapi gagal. Kegagalannya menguasai teknis bertani tidak membuat dunia pertanian ditinggalkan. Pengalaman sebagai petani dan residensi di beberapa kota pantai, akhirnya bermuara menjadi karya-karya yang memanfaatkan elemen-elemen pertanian seperti terpal, karung goni, tali rafia, yang kemudian divisualkan menjadi karya berupa perahu, namun sekaligus menyeret memori ke dunia agraris. Ia menjadikan simbol-simbol dan pengalaman sebagai anak petani menjadi pengetahuan artistik. Ia tidak menjadikan penderitaan sebagai syarat kreativitas. Ia mengolah pengalaman. Bahkan kegagalan pun bisa menjadi bahan bakar.
Persoalannya bukan lagi apakah Dwi seorang petani atau seniman. Ia berada di antara keduanya—membawa pengalaman ladang ke ruang seni, lalu mengembalikan persoalan seni kepada kehidupan. Selain aktif mengikuti program residensi di Indonesia dan luar negeri, Dwi juga berkiprah sebagai kurator dan penggerak ekosistem seni. Ia merupakan salah satu pendiri Serbuk Kayu dan Noise Brut, dua komunitas seni yang berfokus pada kolaborasi lintas disiplin, produksi pengetahuan, dan pengembangan praktik seni kontemporer di Indonesia.
Konsistensinya dalam berkarya membawanya meraih Gold Award UOB Painting of the Year Indonesia (2019), ColorPro Award (2022), serta menjadi finalis berbagai kompetisi nasional dan internasional, termasuk Decolonial Memorial Design Competition di Berlin (2024). Karyanya telah dipresentasikan di berbagai institusi dan perhelatan seni bergengsi, seperti Galeri Nasional Indonesia, Museum Neukölln Berlin, Jakarta Biennale, Jogja Biennale, Jatim Biennale, Indonesia Bertutur, dan Lumbung Indonesia.
Sedangkan Ufa Faizah malah studi formal di jurusan hukum Universitas Brawijaya, melanjutkan tingkat magister di Universitas Airlangga, dan sudah praktek di kantor advokat. Namun jiwanya yang suka melukis sejak masih SMP itu meronta-ronta hingga nekat meninggalkan dunia hukum yang menjadi “perintah” ayahnya. Hingga saat ini anak bungsu tiga bersaudara ini mengaku tidak mendapat dukungan dari keluarganya, kecuali suaminya sendiri.
Gejolak yang terjadi dalam jiwanya dia ekspresikan dalam figur-figur boneka di lukisannya. Bahasa visualnya sering menggunakan simbol boneka, ruang domestik, serta narasi tentang krisis identitas, rasa takut, dan transformasi diri (seperti karyanya yang terkenal berjudul Metamorphosis: The Self Architect). Dia menjadikan figur boneka yang ditransformasikan dari sekadar objek permainan menjadi metafora yang merepresentasikan emosi, ingatan, dan pengalaman batin manusia. Melalui penataan latar, properti, serta pencahayaan yang dirancang secara cermat, ia membangun ruang-ruang imajinatif yang mengaburkan batas antara realitas dan fantasi.
Meski tetap bertahan di kota kecil Situbondo, karya-karya Ufa kini dipasarkan dan direpresentasikan oleh sebuah galeri di Filipina. Bisa jadi Ufa akan mengikuti pendahulunya, yaitu Robbi Dwi Antono.
Garis Edelweis lain lagi. Meski darah seninya menurun dari ayahnya yang juga pelukis, pada mulanya dia lebih suka menekuni dunia desain dan ilustrasi secara otodidak. Asal-usul Nama “Edelweiss” berasal dari nama studio desain kecil miliknya dahulu, yaitu Edelweiss Design, sebelum ia fokus menekuni dunia seni gambar sejak 2012. Hingga suatu saat ayahnya yang pelukis abstrak itu mendorong Garis ikut pameran lukisan bersama di Pasuruan. Sejak itulah pria bernama asli Garis Kabe Muslim ini menyebut dirinya “terjerumus” dalam dunia seni lukis, meski tidak sepenuhnya meninggalkan dunia desain. Akun instagramnya dia penuhi dengan karya-karyanya sehingga menjadi media promosi yang efektif. Sampai-sampai seorang Heri Pemad, direktur ArtJog, sengaja mencari perupa Pasuruan ini dan memintanya menjadi semacam agency.
Ia juga memanfaatkan teknologi NFT (Non-Fungible Token), yaitu teknologi berbasis blockchain yang memungkinkan sebuah karya digital memiliki sertifikat kepemilikan dan diperjualbelikan secara digital. Melalui NFT, karya-karyanya dapat dipasarkan dan diakses oleh kolektor dari berbagai negara, sehingga jangkauan karyanya tidak lagi terbatas pada ruang pamer atau pasar seni di dalam negeri, bahkan membawanya berkolaborasi dalam proyek art print dengan Black Sabbath. Pada 2023, ia meraih iCanvas Digital Art Award dalam Beautiful Bizarre Art Prize melalui karya The Healer.
Lokasi Tak Jadi Batas
Dari capaian ketiganya, muncul pertanyaan: Haruskah seorang seniman pindah ke Yogyakarta, Bandung, atau Jakarta agar bisa masuk ke medan seni rupa kontemporer Indonesia? Nirwan Dewanto menyimpulkan, bahwa pengalaman tiga perupa kali ini justru menunjukkan sebaliknya. Tempat tinggal dan lokasi berkarya tidak lagi menjadi batas utama. Yang jauh lebih menentukan adalah kemampuan membangun jejaring, menemukan ruang untuk hadir, dan terlibat dalam percakapan seni yang lebih luas.
Nirwan yang juga menjadi salah satu kurator Artsubs itu menyebutkan, perubahan teknologi komunikasi membuat peta tersebut semakin terbuka. Internet telah memangkas jarak yang dulu menjadi persoalan serius. Surabaya dan Yogyakarta, misalnya, kini bukan dua ruang yang terpisah jauh. Bahkan hubungan dengan medan seni rupa internasional pun dapat dibangun tanpa harus selalu hadir secara fisik di pusat-pusat seni dunia.
Namun, internet bukan satu-satunya pintu. Jalur komunikasi konvensional dan perjumpaan langsung tetap penting. Seorang seniman dapat masuk ke dalam jejaring melalui pameran, diskusi, residensi, pertemuan dengan kurator, atau hubungan dengan sesama seniman. Dari satu perjumpaan, terbuka kemungkinan muncul perjumpaan berikutnya.
Di situlah arti penting network. Ketika seorang seniman dari daerah tampil dalam sebuah pameran penting di Surabaya, Yogyakarta, atau Jakarta, ia sebenarnya tidak hanya sedang memamerkan karya. Ia sedang masuk ke sebuah simpul. Dari simpul itu, hubungan dapat bergerak ke tempat lain dan terhubung dengan jaringan yang lebih luas, termasuk jaringan internasional.
Ditambahkannya, selama ini medan seni rupa kontemporer memang sering dibaca melalui kota-kota yang dianggap sebagai pusat. Yogyakarta memiliki sejarah panjang dan ekosistem seni yang kuat. Bandung memiliki tradisi pendidikan dan praktik seni yang khas. Jakarta memiliki konsentrasi institusi, pasar, galeri, kolektor, dan berbagai peristiwa seni. Tetapi kemunculan Surabaya dan sejumlah kota lain memperlihatkan bahwa peta tersebut tidak pernah benar-benar selesai.
Sebuah pusat, pada akhirnya, bukan sekadar titik di peta. Ia menjadi penting karena memiliki keterbukaan. Ada semacam window display yang memungkinkan seniman dari berbagai wilayah masuk, terlihat, dan berinteraksi. Orang-orang yang secara geografis tidak memiliki hubungan langsung dengan kota tersebut pun dapat hadir dan menjadi bagian dari percakapan.
Di sinilah pameran seni rupa berskala besar memiliki peran strategis. Pameran tidak hanya mempertemukan karya dengan penonton. Ia juga mempertemukan seniman dengan seniman, seniman dengan kurator, institusi, kolektor, dan berbagai jaringan seni. Pameran menjadi ruang untuk menemukan potensi yang mungkin selama ini tersembunyi karena tidak berada di kota yang dianggap sebagai pusat.
Maka pertanyaannya bukan lagi: “Mengapa seniman daerah tidak datang ke pusat?” Pertanyaan yang lebih relevan adalah: “Bagaimana pusat-pusat seni membuka diri sehingga berbagai daerah dapat terhubung?”
Pengalaman tiga perupa ini memberikan jawabannya. Pasuruan, Situbondo, maupun Lamongan tidak harus kehilangan identitas lokalnya untuk masuk ke medan seni rupa kontemporer Indonesia. Mereka dapat hadir melalui jalur masing-masing, membangun jejaring dari tempat mereka berkarya, lalu menemukan simpul-simpul yang menghubungkan mereka dengan medan yang lebih luas. (hn)