Andy Rahman Padukan Arsitektur Nusantara dengan Seni Kontemporer
SURABAYA – Penyelenggaraan pameran seni rupa kontemporer Artsubs tidak hanya diikuti oleh kalangan perupa murni, melainkan juga arsitek. Merujuk tema Artsubs kali ini adalah Border (batas), Treshold (ambang), dan Beyond (seberang), maka karya arsitektural berada dalam wilayah Beyond. Salah satu yang dihadirkan dalam pameran ini adalah karya instalasi “Cakra Manggilingan” dari Andy Rahman, pemilik Biro “Andyrahman Architect”, didirikan pada 2006 bersama Abdi Manaf.
Kehadiran Andy Rahman dalam ARTSUBS kali ini merupakan bagian dari upaya memperluas cakupan seni kontemporer melalui keterlibatan praktisi lintas disiplin. Selain Andy, terdapat dua arsitek lain yang turut berpartisipasi, yakni Dhaniesal dan Dendy Darman.
Karya tersebut menjadi salah satu bentuk pertemuan antara disiplin arsitektur dan seni rupa kontemporer. Tidak sekadar menghadirkan ekspresi visual, instalasi ini juga membawa gagasan tentang keberlanjutan lingkungan, pemanfaatan warisan tradisi Nusantara, serta hubungan manusia dengan alam.
Begitu pengunjung melewati pintu masuk maka langsung dihadang bangunan berupa tumpukan material mirip batu bata yang terpasang hampir melingkar, dengan bata-bata yang melayang-layang di bagian ruangan tengah. Instalasi tersebut tidak sekadar menghadirkan bentuk visual, tetapi juga merepresentasikan hubungan manusia dengan alam semesta, hubungan sesama manusia, dan hubungan manusia dengan Tuhan. Filosofi Cakra Manggilingan mengingatkan bahwa kehidupan senantiasa berputar. Manusia tidak sepatutnya sombong ketika berada di atas dan tetap bersyukur ketika berada di bawah. Itulah karya Andy Rahman.
Dalam diskusi bertajuk Wicara Seniman – Andy Rahman di ARTSUBS, di selasar Balai Budaya Surabaya, Sabtu (3/10/2026), Andy memaparkan perjalanan eksplorasi arsitekturnya selama dua dekade terakhir, dari pendekatan desain konvensional menuju pengembangan material dan nilai-nilai arsitektur Nusantara.
Andy mengembangkan eksplorasi material bangunan dengan memanfaatkan limbah plastik dan PVC sebagai alternatif bahan konstruksi masa depan. Eksplorasi tersebut diwujudkan dalam instalasi seni bertajuk Cakra Manggilingan yang dipamerkan dalam perhelatan ARTSUBS di Balai Pemuda Surabaya yang sedang berlangsung saat ini.
Dijelaskannya, sejak 2006 hingga 2026, praktik desainnya mengalami pergeseran fokus. Ia mulai meninggalkan pendekatan arsitektur konvensional untuk mendalami warisan tradisi Nusantara dan mengembangkannya melalui pendekatan personal.
Menurutnya, arsitektur Nusantara bukan semata-mata persoalan bentuk bangunan tradisional. Di dalamnya terdapat kearifan lokal berupa pengetahuan mengenai iklim, geografi, ketersediaan material, hingga respons terhadap kondisi lingkungan.
Pengalaman mempelajari arsitektur Nusantara dimulai ketika dirinya mengembangkan Rumah Cukil. Dari proses tersebut, Andy menemukan bahwa elemen-elemen arsitektur tradisional tidak hanya memiliki fungsi teknis, tetapi juga mengandung pesan simbolis dan filosofis.
Ia mencontohkan Rumah Tongkonan, yang setiap elemennya memiliki makna dan dirancang sebagai satu kesatuan yang holistik. Demikian pula bangunan Rumah Joglo yang sudah akrab dalam budaya Jawa.
“Arsitektur Nusantara yang terus berkembang adalah arsitektur yang secara aktif merespons kondisi nyata, seperti iklim, geografi, ketersediaan material, dan sinar matahari. Inilah yang dikembangkan, bukan sekadar bentuk fisiknya,” jelas alumnus Arsitektur ITS tahun 2004 ini.
Andy menjelaskan, proses penciptaan karya tersebut melibatkan pembuatan 1.800 keping bata yang dicetak menggunakan mesin CNC berdasarkan desain yang telah disiapkan. Penataan pencahayaan juga dirancang secara khusus agar menyatu dengan karakter instalasi. Karya ini sekaligus menjadi pengalaman pertama Andy mengikuti pameran dalam ranah seni rupa.
“Ketika masuk ke pameran seni, instalasi sudah tidak lagi berbicara soal fungsi, melainkan spesifik sebagai karya seni. Sebagai arsitek, seseorang tidak serta-merta menjadi seniman. Secara pribadi, kecintaan terhadap seni membantu mencurahkan sisi kreatif, tetapi latar belakang arsitektur tetap tidak bisa dilepaskan,” ungkap peraih Nominasi ArchDaily Building of the Year ini.
Memperluas Batas Arsitektur dan Seni Rupa
Diskusi yang dimoderatori Asmudjo J. Irianto tersebut juga membahas posisi arsitek dalam perkembangan seni kontemporer, hubungan antara fungsi dan estetika, hingga tantangan mengembangkan material bangunan yang lebih ramah lingkungan.
Asmudjo J. Irianto dalam pengantarnya menjelaskan bahwa hubungan arsitektur dan seni rupa telah berlangsung sejak lama. Bahkan, dalam tradisi Renaisans, seni lukis, seni patung, dan arsitektur dikenal sebagai tiga pilar utama praktik artistik. Dalam perkembangan seni rupa kontemporer, perpindahan lintas disiplin semakin banyak terjadi. Praktisi desain dan arsitektur memasuki dunia seni rupa, sementara sejumlah seniman juga mengembangkan praktik di bidang arsitektur.
Asmudjo menilai Andy Rahman merupakan salah satu arsitek asal Surabaya yang memiliki identitas atau brand kuat melalui praktik arsitekturnya. Menurutnya, kualitas artistik dalam karya yang memiliki fungsi lahir dari penyatuan pengetahuan teknik, pendekatan personal, dan estetika.
Namun, ketika karya arsitektur masuk ke ruang pameran seni rupa, terjadi perubahan orientasi. Arsitektur pada dasarnya memiliki pertimbangan fungsi sebagai prioritas, sedangkan instalasi seni tidak harus tunduk pada tuntutan fungsi bangunan. Pertemuan kedua disiplin tersebut membuka kemungkinan bagi arsitek untuk menghadirkan gagasan yang sebelumnya berada dalam ranah desain bangunan ke dalam bentuk karya seni kontemporer.
Salah satu perhatian utama Andy dalam praktik arsitektur adalah persoalan material. Menurutnya, arsitek harus melakukan riset mendalam sebelum menentukan material yang digunakan dalam sebuah rancangan.
Dalam pengembangan material bata, ia melihat adanya persoalan pada penggunaan bata konvensional yang bersumber dari tanah liat. Eksploitasi berlebihan terhadap material alam menjadi salah satu alasan perlunya mencari alternatif bahan bangunan yang lebih berkelanjutan.
Eksplorasi tersebut kemudian mengarah pada pengembangan terakota yang dikombinasikan dengan PVC dan plastik limbah. Material campuran tersebut menjadi bagian dari eksperimen Andy untuk menghadirkan alternatif bahan bangunan yang tidak sepenuhnya bergantung pada eksploitasi sumber daya alam.
Proses Pengembangan Material
Dipaparkan Andy, tahap pertama adalah meneliti dan mengembangkan bata RMH. Berikutnya, Andy mengembangkan bata lego, kemudian bata berbahan tanah tidak subur yang tidak melalui proses pembakaran di Bangkalan.
Pada tahap ketiga, pengembangan tersebut juga diwujudkan melalui pembangunan rumah subsidi dan pendirian pabrik bata lego di dekat kawasan perumahan untuk melibatkan masyarakat lokal.
Tahap keempat beralih pada pemanfaatan limbah terakota untuk menghasilkan bata tanpa pembakaran. Sementara tahap kelima menggunakan material plastik sebagai respons terhadap persoalan lingkungan global.
Andy berharap pengembangan tersebut dapat menjadi alternatif bahan bangunan masa depan yang memanfaatkan limbah, bukan terus-menerus mengambil material baru dari alam.
“Arsitektur harus meminimalkan kerusakan lingkungan,” tegasnya
Bagi Andy, keberlanjutan bukan sekadar persoalan memilih material, melainkan juga menyangkut cara seorang arsitek memperlakukan lingkungan dalam proses pembangunan. Ia berupaya menunjukkan kepada klien bahwa rancangan arsitektur seharusnya merespons kontur tanah dan mempertahankan objek alami yang telah ada di lokasi pembangunan.
Prinsip yang dipegang adalah selama manusia tidak mengeksploitasi alam secara berlebihan, bumi memiliki kemampuan untuk memulihkan dirinya sendiri.
Andy juga menekankan pentingnya kejujuran dalam penggunaan material. Menurutnya, nenek moyang memiliki kepekaan terhadap iklim dengan tidak berusaha melawannya, melainkan merespons kondisi alam melalui pemilihan dan penampilan material secara tepat.
Arsitektur, dengan demikian, harus bertumpu pada ketersediaan material serta pemberdayaan potensi lokal demi menjaga keberlanjutan. Pandangan tersebut sekaligus menempatkan arsitek pada posisi penting dalam sektor pembangunan. Sebab, keputusan desain dan pemilihan material memiliki konsekuensi langsung terhadap lingkungan.
Dalam diskusi tersebut, Andy juga menyoroti persoalan pendidikan arsitektur di Indonesia yang menurutnya masih menghadapi tantangan dalam mengembangkan pengetahuan arsitektur lokal. Ia melihat adanya kecenderungan pendidikan arsitektur setelah masa kolonial dan kemerdekaan untuk berkiblat pada pendekatan Barat. Padahal, rumah-rumah tradisional Nusantara memiliki kekayaan pengetahuan yang dapat menjadi sumber pembelajaran bagi perkembangan arsitektur masa kini.
Andy menilai perlu adanya momentum untuk mengambil kembali proses arsitektural yang berakar pada pengetahuan sendiri. Hal tersebut bukan berarti menolak arsitektur Eropa, melainkan membangun kesadaran bahwa arsitektur Nusantara juga memiliki kekuatan dan pencapaian tersendiri.
“Arsitektur Eropa dan Nusantara sama-sama baik dengan caranya masing-masing, tetapi kita tidak boleh merasa inferior dari arsitektur Barat atau Eropa,” ujarnya.
Ia menambahkan, proses tersebut membutuhkan waktu panjang. Saat ini, masyarakat arsitektur Indonesia setidaknya telah berada pada tahap menyadari persoalan dan mulai memproses kemungkinan pengembangannya.
Sejumlah penanggap dalam diskusi turut mempertanyakan relevansi pengembangan arsitektur Nusantara dengan kebutuhan masa kini.
Nirwan Dewanto, misalnya, mengangkat persoalan mengenai bagaimana warisan arsitektur masa lalu dapat dikembangkan tanpa sekadar mengulang bentuk tradisional. Ia juga mempertanyakan aspek fungsional dan ekonomi dari material bata yang dikembangkan Andy.
Menanggapi hal tersebut, Andy menegaskan bahwa yang dikembangkan bukan sekadar bentuk fisik arsitektur masa lalu, melainkan pengetahuan dan prinsip yang mendasarinya. Menurutnya, arsitektur Nusantara memiliki kekuatan karena dibangun melalui respons terhadap kondisi lingkungan yang nyata.
Sementara itu, dalam konteks pengembangan material, ia mengakui bahwa riset membutuhkan proses bertahap dan tidak dapat dilakukan sekaligus dalam berbagai bidang. Karena itu, Andy memilih memusatkan perhatian pada pengembangan bata sebagai bidang yang ingin dikuasainya secara mendalam.
Tantangan lainnya adalah proses mewujudkan karya dalam skala instalasi pameran. Andy menjelaskan bahwa kolaborasi dengan tim kecil, vendor, dan sejumlah pihak pendukung menjadi bagian penting dalam proses eksekusi. Dalam proyek tersebut, dukungan antara lain datang dari Gantara Lighting dan Nippon Paint dan berbagai vendor lainnya sehingga karya ini menjadi karya kolaboratif.
Diskusi juga menyinggung peluang penyelenggaraan Biennale Arsitektur di Indonesia. Andy menyebut gagasan tersebut telah menjadi keresahan bersama di kalangan arsitek, meskipun formula untuk mewujudkannya masih terus dibicarakan. Menurutnya, proses tersebut tidak mudah dan membutuhkan waktu panjang.
Di sisi lain, perkembangan pameran seni rupa seperti ARTSUBS, ARTJOG, dan Art Jakarta menunjukkan semakin terbukanya ruang bagi praktik seni kontemporer.
Melalui Cakra Manggilingan, Andy Rahman mempertemukan riset material, pengetahuan arsitektur Nusantara, filosofi tradisi, dan ekspresi artistik dalam satu karya. Eksplorasi tersebut sekaligus memperlihatkan bagaimana praktik arsitektur dapat bergerak melampaui batas fungsi bangunan, tanpa sepenuhnya meninggalkan persoalan material, lingkungan, dan pengetahuan yang menjadi dasar disiplin tersebut. (hn)