Nota Kuratorial ArtSubs 2026
Lampiran 01: Nota Kuratorial ARTSUBS 2026
ARTSUBS 2026
BATAS, AMBANG, DAN SEBERANG
(BORDER, THRESHOLD, AND BEYOND)
Di antara segala yang bergerak di dunia—berbagai ide, bentuk, ingatan, tubuh-raga, teknologi, bahasa, informasi, wacana, benda, dan seterusnya—ada momen ketika hal-hal yang sebelumnya asing, berjauhan, atau bahkan tak saling mengenal tiba-tiba saling berjumpa. Kadang perjumpaan itu lembut, nyaris tanpa suara; kadang seperti arus deras yang saling menghantam. Kadang dua atau lebih unsur yang bertemu itu begitu mudah bersintesis menghasilkan hal yang baru; kadang pula harus bersaing keras untuk saling menyesuaikan diri. Kertas acuan ini mengancang bahwa perubahan apa pun tidak mungkin terjadi tanpa pertemuan demikian. Setiap perjumpaan, sekecil apa pun itu, khususnya dalam ranah seni rupa, membawa peluang bagi kelahiran makna, karya, peristiwa dan wacana yang baru.
Seni kontemporer, dengan segala kelenturan dan kebebasannya, telah menjadi ruang di mana berbagai perjumpaan demikian menemukan bentuk. Di setiap perjumpaan, batas-batas yang dulu dianggap pasti—antara seni dan bukan-seni, antara konvensi dan eksperimen, antara tradisi dan revolusi, antara yang nyata dan yang maya, antara tubuh-raga dan piksel digital, antara rancangan dan permutasi, antara keterampilan tangan dan kecerdasan buatan—mengabur dan saling meresapi. Seni bukan lagi wilayah yang berdiri jauh dari kehidupan, melainkan medan di mana berbagai pengalaman bertemu, bertaut, berubah satu sama lain. Juga, seni rupa bukan lagi pranata yang beku dan kaku, namun cair, siap melebur ke dalam—dan mengadopsi—beragam amalan dan disiplin yang lain.
Dalam medan perjumpaan itu, kita menemukan beragam cara bagaimana para seniman merawat, memperlentur, merundingkan, bahkan membocorkan apa yang selama ini menjadi batas bagi amalan dan wacana mereka.
- Batas yang dijaga. Yang dimaksud di sini adalah amalan (praktik) yang tetap setia pada disiplin dan konvensi formal—lukisan, drawing, printmaking, patung monolit—namun terbuka untuk menyerap gagasan maupun pengalaman baru sebagai peluang untuk melaksanakan kritik terhadap disiplin sendiri maupun kekaryaan sendiri. Di sini, batas bukan lagi benteng, melainkan kesadaran akan keutuhan bahasa ungkap. Seringkali, apa yang sebelumnya disadari sebagai batas-pembatas, yaitu segala apa yang membedakan disiplin seni rupa dengan berbagai disiplin lain dan dengan kehidupan, justru membuka peluang pada penggunaan berbagai jenis bahan (material) yang selain-lainnya bagi kreasi dan produksi seni kontemporer. Ini adalah apa yang disebut rematerialisasi, yang bukan hanya kembalinya pengutamaan materi—setelah satu periode panjang berlakunya imaterialisasi, yaitu hilangnya material, dalam seni konseptual, misalnya—namun juga pemerkayaan jenis material dan medium dalam kiprah para seniman rupa.
- Batas yang diperluas atau dilenturkan. Hal ini terjadi manakala seorang seniman rupa merentangkan medium, teknik, dan metodenya melampaui konvensi seni rupa, tanpa memutus akar estetis atau akar historisnya. Lukisan yang memperluas permukaannya menjadi dua setengah dimensi dengan material selain cat dan kanvas; cetak grafis yang tersusun menjadi instalasi; patung dengan bahan-bahan yang menolak monumentalitas, misalnya. Kita sudah mengenal expanded paintingatau expanded sculpture, dan seterusnya, yang tumbuh dari upaya untuk melampaui—bahan melakukan subversi terhadap—definisinya sendiri. Apa yang menjadi kekhasan wahana, medium specificity, didorong hingga ke ambang yang jauh, justru untuk memperkaya perjumpaan seni dengan publik.
- Batas yang diseberangi. Ini terjadi manakala sebuah disiplin seni bertemu dengan satu atau lebih disiplin yang lain dalam ranah kesenian atau apa yang segera bisa dipersepsikan sebagai kesenian, the arts. Proses saling menyerap ini melahirkan bentuk-bentuk hibrida yang bukan hanya tak terduga, tetapi juga mempersoalkan apa yang sudah dianggap berterima dalam sejarah seni rupa. Persilangan antara film atau video dengan performance art, antara batik dan artificial intelligence, antara sound artdan ritual yang mengandalkan tubuh-raga, antara tulisan (sastra) dengan presentasi desain interior, antara cetusan kekontemporeran dan warisan dari budaya tradisi, misalnya, semua itu adalah contoh-contoh yang menyatakan bahwa batas bukan lagi pemisah antar-disiplin atau antar-wacana, tetapi irisan yang membawa hasil simbiotik yang terbaik dari masing-masingnya.
- Batas yang dibuka. Seni, dalam hal ini seni rupa, dapat dianggap sebagai sebuah pulau-disiplin di tengah dunia-kenyataan, sementara dunia—yaitu, realitas—itu sendiri adalah penjumlahan total dari hasil-hasil berbagai disiplin. Dalam “batas yang dibuka”, terkandung pengertian bahwa seni rupa membuka dirinya terhadap dunia-kenyataan dengan jalan kolaborasi, tepatnya kolaborasi antara seniman dengan pihak-pihak lain, misalnya industri, komunitas, “perajin”, ilmuwan, lembaga peneliti, teknolog, dan seterusnya. Kolaborasi ini bukan hanya jalan lain untuk memproduksi seni, baik di ruang pameran maupun di ruang publik, namun juga untuk memaknai kembali proses kreasi-produksi secara lebih luas sekaligus kritis. Dengan kata lain, seni rupa menjadi ruang belajar bersama tentang diri dan masyarakat, tentang lingkungan dan sejarah.
Keempat batas yang terbabar dalam nota acuan ini bukanlah kategori kaku, tetapi spektrum peluang yang terus bergerak dan bertumbuh.
Kita sadari kembali bahwa perjumpaan tidak selalu menghadirkan harmoni. Ketika segala perihal bertemu, tak jarang muncul kegamangan, benturan nilai, gesekan persepsi. Seni memberi ruang bagi tegangan (tensi) tersebut untuk hadir tanpa memaksa para pemirsa untuk menarik kesimpulan. Ia mengizinkan pertanyaan menggantung lebih lama, memberi jeda bagi kita untuk tinggal dalam ketidakpastian: Bagaimana kita membaca karya yang menyerap begitu banyak bahasa, pengetahuan, dan pengalaman sekaligus? Apa yang terjadi ketika pijakan—cara menilai—seni tidak lagi tunggal? Bagaimana jika sifat kontemporer seni tidak lagi bersepadan dengan berbagai revolusi ilmu, teknologi dan informatika? Barangkali berbagai pertanyaan itu bisa tetap tinggal bersama kita—menjadi semacam ruang-antara.
Di ruang-antara inilah publik pemirsa hadir. Di sini publik tidak ditempatkan sebagai penerima makna yang pasif, tetapi sebagai pengembara dalam lanskap perjumpaan yang menangguhkan penilaian dan penghakiman, membuka ruang bagi resonansi yang bekerja pelan-pelan dalam jiwa-raga, dan perlahan mengubah cara kita melihat dunia. Proses ini bisa berlaku dengan lembut, bisa pula dengan kejutan dan guncangan. Dengan demikian, pengalaman melihat karya-karya seni bukanlah akhir perjalanan, melainkan bagian dari pengayaan dalam diri kita—yaitu untuk membangkitkan sensibilitas, kreativitas, imajinasi dan toleransi.
Dalam lanskap seperti demikianlah BATAS, AMBANG, DAN SEBERANG (dalam bahasa Inggris adalah BORDER, THRESHOLD, AND BEYOND) hadir sebagai tema ARTSUBS 2026—sebagai undangan bagi para seniman untuk memperlambat langkah, menyelami kembali khazanah yang membentuk mereka, dan merasakan denyut yang samar namun dan mendasar dalam setiap perjumpaan antara seni dengan sejarahnya sendiri dan dengan masyarakat. Ini adalah perjumpaan yang membuat seni rupa kontemporer tidak berdiri sendiri, tetapi menjadi simpul dalam jaringan makna yang lebih luas. Tanpa harus memberikan jawaban, seni kontemporer memastikan agar percakapan tetap berlangsung—agar kita terus bertanya, merasakan, dan menjalin hubungan dengan apa yang bernama realitas. Di sini, kuriositas, di tengah tata pajangan di ruang pamer, beririsan dengan penghiburan. Yang enigmatik adalah juga yang “menghibur”, yaitu menghibur selain-lainnya daripada apa yang diberikan oleh lautan budaya massa di luar sana.
Di ruang-ruang perjumpaan ini, para seniman menjadi perantara. Mereka menarik garis-garis halus antara yang konkret dan yang abstrak, antara yang personal dengan yang komunal, antara ruang intim dan ruang publik, antara yang personal dan yang politis. Karya-karya seni menjadi wadah bagi unsur-unsur liyan dari diri sendiri maupun dari luar sana, beresonansi, dan meninggalkan tilas dalam kehidupan bersama yang tidak lagi sekadar mengejar tujuan jangka pendek. Dan setelah perjumpaan itu, boleh jadi kita bukan lagi diri yang sama, tetapi diri yang berbeda, diri yang baru.
—Asmudjo J. Irianto dan Nirwan Dewanto